Upaya Kartini Masa Kini untuk Berkiprah di Bidang Industri pada Era Revolusi Industri 4.0

 

Oleh : Ade Rima Miranti

“ Kartini Moderen adalah perempuan yang percaya diri, tidak malu punya ambisi dan tidak ragu untuk mewujudkan mimpi”
(Najwa Shihab, jurnalis televisi)
Jika kita bicara tentang Kartini, pastilah semua orang mengenal sosok inspiratif yang satu ini. Dasar emansipasi wanita menjadi topik perbincangan yang tak dapat dilepaskan dari sosoknya. Ia dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita karena buku yang ditulis oleh Mr. J.H. Abendanon yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini berisikan tentang pemikiran dan tindakannya dalam memperjuangkan hak wanita dan memajukan bangsa. Buku tersebut banyak menginspirasi kaum wanita dari berbagai kalangan usia dan juga era. Beliau menjadi inspirasi banyak wanita untuk terus maju dan berkarya.
Jika pada era 1900-an, tantangan yang dihadapi oleh R.A. Kartini berlatarbelakangkan faktor ekonomi dan budaya atau adat istiadat yang berkembang di kalangan masyarakat tradisional, maka beda lagi halnya dengan kartini masa kini yang hidup di era digitalisasi, yang dihadapkan dengan tantangan dari berbagai bidang yang mulai kompleks. Bukan lagi soal pemikiran bahwa perempuan dibatasi dan ditindas pendidikannya, tapi saat ini kita menghadapi persoalan tentang tantangan baru, yaitu persamaan akses, kesempatan, dan keterbukaan.
Wanita masa kini diharapkan bisa lebih tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Pada era digitalisasi ini, kehidupan kita akan diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intellegence), era super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, inovasi, dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan eksponensial (sangat cepat). Hal ini merupakan kelanjutan dari era Internet of Everything (IoT), dimana teknologi digital dan komputer ditemukan. Hanya negara yang memiliki sumber daya manusia unggul dan pemberdaya yang mampu memenangkan persaingan di era ini.
Pada era Revolusi Industri 4.0, akan ada dampak yang sangat besar terhadap peradaban manusia dan ekonomi. Dampak tersebut menimbulkan reaksi dari banyak masyarakat di berbagai kalangan, terutama dari generasi millenial. Mereka khawatir menghadapi perubahan tersebut, karena implikasi-implikasi yang akan ditimbulkan seperti pengangguran, kompetisi manusia vs mesin, dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi.
Banyak generasi millenial yang berpikir bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan akibat dampak dari banyaknya perusahaan yang mengganti seluruh tenaga kerjanya menjadi mesin. Menurut saya, opini tersebut tidaklah sepenuhnya benar, memang robot akan mengambil alih pekerjaan manusia, namun hal ini akan menciptakan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan baru untuk manusia-manusia yang terdidik.
Menurut Menteri Tenaga Kerja Indonesia, pada era Revolusi Industri 4.0 ini, akan ada sebanyak lebih dari 150 bidang pekerjaan yang diambil alih oleh robot, tetapi akan tercipta 300 bidang pekerjaan baru yang memerlukan SDM yang kreatif pada bidangnya. Di masa yang akan datang, kompetisi di dunia berfokus pada era kompetisi dari manusia-manusia unggul dengan perkembangan massif ekonomi digital dan teknologi. Dengan begitu, bidang industri Science, Technology, Engineering, dan Methematics (STEM) akan memiliki peluang kerja yang amat besar. Bidang-bidang keahlian yang berkaitan dengan bidang tersebut akan semakin banyak dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan zaman yang mengandalkan keahlian di bidang teknologi digital.
Kehadiran Revolusi Industri 4.0 dianggap sebagai kesempatan besar untuk meningkatkan pendapatan perempuan. Namun pada faktanya, belum banyak perempuan yang berprofesi di bidang industri berbasis digital tersebut. Dari data terakhir pada Februari 2017 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya terdapat 30% jumlah pekerja perempuan dari sekitar 131,55 juta pekerja yang bekerja di bidang industri STEM. Rendahnya angka pekerja perempuan di bidang ini disebabkan karena presepsi lingkungan kerja yang didominasi oleh pekerja laki-laki karena melibatkan pekerjaan fisik dan tidak menarik bagi pekerja perempuan (cenderung memilih sektor administrasi atau manajemen).
Sebagai Kartini masa kini yang hidup di era digitalisasi, kita tidak boleh tertinggal atau tergerus kemajuan zaman, kita harus mempunyai sifat yang adaptabel dan terbuka pada perubahan yang ada, karena perubahan sendiri pada dasarnya memanglah suatu keniscayaan, begitu juga perubahan pada fase revolusi industri 4.0.
Dampak dari era digitalisasi ini adalah kita dihadapkan dengan fase disrupsi. Dalam kehidupan sehari hari, hal ini ditandai dengan adanya evolusi teknologi besar-besaran yang menyasar segala aspek kehidupan. Contohnya ketika masyarakat pada awalnya melakukan seluruh aktifitas di dunia nyata, lalu perlahan beralih ke dunia maya, misalnya Start up dan e-commersce adalah dua bidang yang paling mendominasi.
Berdasarkan data terbaru dari situs registrasi perusahaan rintisan, stratupranking.com, Indonesia telah memiliki 2.079 perusahaan rintisan dan menempati posisi ke-5 setelah Kanada (2.485 start up). Sedangkan menurut hasil riset Google dan Temasek dalam laporannya e-Conomy SEA 2018 menyatakan GMV (Gross Merchandise Value) industri e-commerce di Indonesia pada tahun 2018 kemarin mencapai US$ 12,2 miliar dan diprediksi angka tersebut akan terus meningkat menjadi US$ 53 miliar pada tahun 2025.
Ada temuan lain yang menarik dari MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia), menurut data yang mereka rinci berdasarkan jenis gender dari founder stratup, sebanyak 91,18% pendirinya adalah laki-laki dan perempuan hanya sebesar 8,82% saja. Lagi-lagi hal ini agak ironis dan memprihatinkan melihat kiprah perempuan dalam bidang industri memiliki angka persentase yang masih amat rendah. Tentunya hal ini menjadi PR besar bagi para kaum wanita untuk harus senantiasa mengembangkan kapasitas dan kualitas dirinya.
Dari data di atas, jelas terlihat bahwa peran perempuan dalam dunia revolusi industri masih sangat rendah. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk Kartini masa kini agar mampu bersaing dan bertahan di lapangan pekerjaan yang amat kompetitif. Lantas hal apa sajakah yang perlu dipersiapkan untuk mampu berkompetisi di era digitalisasi ini? Berikut saya paparkan informasinya.
Para Kartini masa kini harus mempersiapkan diri dengan terus belajar dan menggali potensi diri, serta senantiasa mawas diri agar dapat mengendalikan situasi. Tentunya untuk menggali potensi perempuan dalam mengadapi persaingan di Era Revolusi Industri 4.0 dibutuhkan peran dan dukungan dari seluruh stakeholder, baik dari lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi, maupun dukungan dari pemerintah dari segi politik anggaran. Pasalnya untuk dapat meningkatkan produktifitas, keberpihakan dari pihak pemerintah haruslah jelas dari sisi politik anggaran. Anggaran harus disiapkan untuk meningkatkan kreatifitas sehingga timbullah inovasi atau penemuan-penemuan baru.
Selain itu, dalam rangka mengupayakan peningkatan pemberdayaan perempuan di sektor STEM, perempuan perlu diberi pendidikan di sektor teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Perlu adanya reorientasi pilihan pendidikan dan minat perempuan, perempuan harus diarahkan kepada dunia teknologi, karena bidang industri STEM ini merupakan sektor yang sangat strategis di masa mendatang. Hal ini sangat perlu dilakukan, mengingat pendidikan dan minat perempuan terhadap dunia teknologi masih kurang. Sehingga langkah ini akan memudahkan perempuan agar dapat berpartisipasi dan berkompetensi di dunia kerja pada masa yang akan datang.
Perempuan wajib memiliki kemampuan literasi data, teknologi, dan manusia. Literasi data guna meningkatkan kemampuan dalam mengolah dan menganalisis data untuk kepentingan peningkatan layanan publik dan bisnis. Literasi teknologi guna memperlihatkan kemampuan memanfaatkan teknologi digital untuk mengolah data dan informasi. Sedangkan literasi manusia diperlukan untuk menunjukkan pengembangan karakter individu agar dapat berkolaborasi dan bersikap adaptif di era disrupsi ini.
Upaya lain yang harus dilakukan oleh perempuan di era digitalisasi ini, yaitu memperdalam enterpreneurship. Seperti yang kita ketahui, di era digitalisasi ini, lapangan pekerjaan dipenuhi orang-orang dengan kompetensi unggul, sehingga lapangan kerja menjadi semakin sengit. Oleh karena itu, perempuan perlu mendalami konsep enterpreneurship guna meningkatkan ekonomi secara mandiri pada era Revolusi Industri 4.0.
Enterpreneurship adalah suatu bentuk didikan, bukan bakat. Oleh karenanya setiap orang mampu memiliki jiwa tersebut berkat latihan dan pembelajaran. Perempuan perlu menjajaki enterpreneurship, khususnya dalam upaya melibatkan diri pada pembangunan ekonomi dan menumbuhkan kesejahteraan untuk masyarakat. Hal ini menjadikan seorang perempuan berperan sebagai kartini sejati yang hidup di era revolusi industri.
Pengertian enterpreneurship sendiri adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dan kemampuan pasar. Dalam jiwa yang dimiliki oleh seorang enterpreneur selalu ada prinsip-prinsip hidup yang ingin terus bergerak dinamis, ia selalu melihat peluang, analisa dan kekreatifannya memunculkan inovasi, sehingga inovasi inilah kemudian memunculkan ide baru. Ide baru yang timbul tersebut tentunya akan memperbanyak lapangan pekerjaan.
Tantangan terbesar dari merealisasikan sebuah ide baru tersebut adalah soal keberanian mengambil keputusan dan memilih terjun dalam dunia enterpreneur. Tidak hanya itu, tantangan tersebut juga berkenaan dengan jiwa visioner, yaitu memiliki visi jangka panjang atau orientasi di masa depan. Namun, di era disrupsi ini, bukan lagi yang cepat mengalahkan yang lambat, tetapi yang cepat akan mengalahkan yang kurang cepat. Bukan hanya cepat, tetapi juga yang instan, inilah yang akan menjadi pemenang dalam era ini. Disinilah kita membutuhkan model kepemimpinan yang bisa disesuaikan dengan era disrupsi digital sekarang ini. Model kepemimpinan ini dinamakan Digital Leadership.
Sebagai Kartini masa kini, Digital Leadership sangat diperlukan untuk memperbaiki banyak masalah yang diciptakan oleh era disrupsi digital. Ada tiga karakter yang harus dimiliki oleh seorang Digital Leadership. Karakter yang pertama, agile (tangkas). Bukan hanya sekedar lincah atau tangkas, tetapi juga cepat, kuat, cerdas, dan berani. Sebab dunia berubah dengan kecepatan yang semakin meningkat, seorang pemimpin haruslah mempunyai kecepatan, ketangkasan, kekuatan, serta keberanian.
Karakter yang kedua, digital mindset (pola pikir digital). Pemimpin haruslah mempunyai pola pikir untuk mengembangkan teknologi dan memanfaatkan informasi yang tersedia dari seluruh dunia, agar dapat menjadi sesutu yang bernilai tinggi, baik untuk diri sendiri, maupun lingkungan sekitar.
Karakter yang ketiga, kolaboratif. Karena perkembangan teknologi yang terlalu cepat dan tak bisa dilawan, maka rangkullah. Pemimpin harus memiliki sifat kolaboratif, yaitu mau bekerja sama dengan pihak terkait untuk membuat sesuatu, baik dari pihak lawan, kawan, dan sebagainya. Di era ini, perlu adanya kolaborasi, memang benar bahwa bisnis bersifat kompetitif, tapi perlu adanya kolaborasi untuk dapat mengimbangi.
Ketiga karakter di atas, bukanlah hal yang mustahil untuk dimiliki oleh Kartini masa kini. Perlu banyak belajar dan jam terbang yang tinggi untuk melatih ketiga karakter tersebut muncul. Kartini masa kini harus mampu mengendalikan dan mengontrol diri sendiri, karena untuk menaklukkan dunia, kita harus mulai dari menaklukkan diri sendiri.
Jangan berasumsi bahwa berkompetisi di era ini merupakan tantangan besar, sehingga topik tersebut menjadi momok yang menakutkan untuk diperbincangkan. Tapi, jadikanlah hal ini sebagai peluang besar bagi Kartini masa kini untuk lebih kreatif, produktif, dan inovatif. Hidup di era Revolusi Industri 4.0 memang bukanlah hal yang mudah, tetapi juga bukan hal yang mustahil untuk kita lalui. Oleh karenanya, perlulah bagi kita, Kartini masa kini yang tumbuh dan berkembang di era digitalisi, untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya. Perlu adanya upaya dari seluruh stakeholder, baik dari lembaga pendidikan, maupun pihak pemerintah. Namun upaya yang sangat berpengaruh dalam persiapan Kartini masa kini untuk menghadapi era digitalisasi adalah diri sendiri.
Jadilah kartini masa kini dengan kreatifitas yang tinggi, karena Revolusi Industri 4.0 tidak akan berjalan tanpa adanya kreatifitas diri. Hal ini mengingat ciri utama Revolusi Industri 4.0 adalah inovasi. Jangan takut berjuang sendiri. Sejatinya, semua orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk merajut asa dan menggapai cita.
Teruntuk Kartini masa kini, bersiaplah! Mari kita hadapi revolusi industri dengan berani! Teruntuk Kartini masa kini, tetaplah membumi! Jangan berhenti berkarya dan berdaya! Karena kita wanita, kita berharga! Kita ingin seiring, bukan digiring!

 

Mungkin Anda Menyukai

%d blogger menyukai ini: