PEREMPUAN KREATIF, LAHIRKAN GENERASI INOVATIF MEMPERSIAPKAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Oleh:

Miftakhul Jannah

AMBISI UINSA 2017

miftacilla@gmail.com

Fakultas Psikologi & Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya 2019

Pendahuluan
“al-ummu madrasah al-ula, idza a’dadtaha a’dadta sya’ban tayyiban al-a’raq.” Artinya “ibu adalah sekolah pertama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi yang terbaik.” Begitulah ungkapan yang sering kali kita dengar setiap kali membahas tentang perempuan terutama bagi mereka yang sudah atau akan menjadi seorang ibu. Teringat pula sebuah hadits Abu Hurairah tentang anak lahir atas dasar fitrah yang mana didalamnya berisi mengenai penjelasan bahwa anak adalah fitrah dari Allah. Pendidikan anak pertama diperoleh dari keluarganya yaitu bersuber dari ibu, sebab ibu adalah seorang yang paling dekat dengan anaknya.
Seiring dengan berjalannya waktu yang semakin digemparkan dengan maraknya arus informasi yang mengandalkan canggihnya teknologi. Para manusia berbondong-bondong untuk mengembangkan diri, bahkan hingga mengupgrade potensi diri. Kehidupan manusia semakin kompleks dan maju sehingga memunculkan ide-ide kreatifitas baru untuk menghadapi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Muhanndar (1995:25) kreativitas merupakan suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sehingga kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Setiap individu memiliki tingkat kreativitas yang berbeda-beda dengan individu yang lainnya. Khususnya untuk ibu-ibu masa kini yang dituntut untuk menjadi seorang yang kreatif, meskipun bukan di bidang seni.
Pada masa kanak-kanak (umur 0-5 tahun), anak dihadapkan pada perkembangan psikologik dalam hal rasa percaya mempercayai dengan orang lain, rasa mandiri, dan mengembangkan inisiatif (prakarsa). Jika anak pada masa itu gagal dalam mengembangkan sikap mental semacam itu, maka sebagai akibatnya anak menderita kurang percaya pada orang lain, menjadi pemalu, dan kurang inisiatif. Kegagalan pengembangan pribadi pada masa kanak-kanak semacam ini tentu berbahaya bagi perkembangan anak selanjutnya.
Perkembangan zaman kini membuat akses terhadap ilmu pengetahuan begitu terbuka secara nyata, tidak terbatas dan belum pernah terjadi sebelumnya. Semua ini bukan lagi mimpi, melalui terobosan teknologi baru di bidang robotika, Internet of Things, kendaraan otonom, percetakan berbasis 3-D, nanoteknologi, bioteknologi, ilmu material, penyimpanan energi, dan komputasi kuantum. Seperti kita ketahui bersama, dampak dari revolusi industri keempat salah satunya adalah otomatisasi dan berkurangnya jumlah tenaga kerja manusia dalam produksi. Seperti dicatat oleh Klaus Schwab, Industri IT di Lembah Silicon tahun 2014 menghasilkan pendapatan sebesar AS$1,09 triliun hanya mempekerjakan 137,000 orang. Sementara tahun 1990an, Detroit yang menjadi pusat tiga perusahaan otomotif besar dunia mempekerjakan sepuluh kali lebih banyak untuk menghasilkan pendapatan yang sama (Scwab 2017).
Dengan berbagai fenomena kemajuan teknologi serta dampaknya tersebut di atas, menjadi nyatalah urgensi transformasi yang semakin tinggi dewasa ini akibat perkembangan era Revolusi Industri 4.0. Untuk mengimbangi kemajuan yang ada pada zaman saat ini maupun masa yang akan datang maka diperlukannya seorang generasi yang inovatif yang mana menurut West & Far adalah pengenalan dan penerapan dengan sengaja gagasan, proses, produk dan prosedur yang baru pada unit yang menerapkannya,yang dirancang untuk memberikan keuntungan bagi individu, kelompok, organisasi dan masyarakat luas. Generasi Inovatif akan muncul karena adanya pendidikan yang kreatif sehingga mereka dapat membuat ide kreatif untuk membuat sesuatu yang inovatif. Pendidikan tersebut dapat dimulai dari seorang wanita hebat yang mana namanya disebut 3 kali oleh Rasulullah, yaitu ibu.

Pembahasan
Berdasarkan Jurnal Empowerment oleh Tri Rosana Yuliati (2014) ditemukan bahwa kreativitas seseorang dapat ditentukan oleh beberapa faktor antara lain faktor hereditas yaitu keturunan dimana jika orang tuanya memiliki bakat keahlian tertentu kemungkinan besar anaknya akan memiliki bakat yang sama. Tetapi tentunya kreativitas dalam diri anak dapat dikembangkan dan ditingkatkan, namun dapat dirasakan oleh kebanyakan orang tua berpendapat bahwa kreativitas seorang anak sulit untuk dikembangkan dikarenakan beberapa faktor salah satunya faktor yang melekat pada diri anak, seperti yang terjadi pada anak kembar yang sulit berkomunikasi dengan orang lain menyebabkan anak kembar tersebut kurang dapat mengembangkan kreativitasnya. Hal lain yang dapat menjadi kesulitan mengembangkan kreativitas yaitu apabila anak cenderung tidak berani mengungkapkan gagasannya saat mendapatkan suatu permasalahan dan anak cenderung pemalu lebih pasif terhadap kreasi yang akan dihasilkannya.
Menurut Ki Hajar Dewantara (1962:20) mengatakan bahwa pendidikan yaitu menjadi tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Menurut Bapak Pendidikan tersebut bahwa pendidikan memajukan budi pekerti, pikiran dan jasmani anak didik selaras dengan alam dan masyarakat sekitarnya.
Chusilp dan Jin (2006) dalam International Journal of Design Creativity and Innovation, mengusulkan kerangka kerja aktivitas kognitif desain konseptual berdasarkan pada empat kegiatan kognitif yaitu menganalisis, menghasilkan, menyusun, dan mengevaluasi masalah. Menganalisis masalah melibatkan pemahamannya oleh menjelajahi persyaratan dan batasannya. Langkah menghasilkan menyelesaikan generasi ide-ide baru, termasuk pengambilan memori, asosiasi dan transformasi teknik stimulasi perceptual. Ibu berperan dalam pendidikan karena sebagai pendidik pertama, berkewajiban dan bertanggungjawab untuk membina anak dengan segala keunikannya, menjadi teladan bagi anaknya dan keluarga sebagai pusat pendidikan pertama. Ibu perlu mengenal perkembangan anak agar dapat memberikan pendidikan yang tepat kepada anak sesuai dengan usia perkembangannya. Ibu yang kreatif akan memberikan banyak hal yang unik guna agar anaknya dapat menangkap apa yang diajarkannya dengan mudah, khususnya bagi anak yang berada di usia 0-5 tahun. Contohnya, mengajak berpikir, tidak mendikte atau dipaksa, membiarkan anak yang memperbaiki dengan caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian anak untuk mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu. Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun.
Hal tersebut selaras dengan kisah terdahulu saat Hazm mengatakan, “Saya mendengar al-Hasan al-Bashri ditanya oleh Katsir bin Ziyad mengenai firman Allah ta’ala.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).
Katsir bin Ziyad bertanya kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud qurrata a’yun (penyenang hati) dalam ayat ini terjadi di dunia ataukah di akhirat? Maka al-Hasan pun menjawab, “Tidak, bahkan hal itu terjadi di dunia.” Katsir pun bertanya kembali, “Bagaimana bisa?” al-Hasan menjawab, “Demi Allah, Allah akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan kolega yang taat kepada Allah dan demi Allah tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain dirinya melihat anak, orang tua, kolega dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Tuhfah al Maudud hal. 123).
Psikolog Pendidikan dari Fakultas Psikologi UI, Patricia Adam, S.Psi., M.Psi. menambahkan, anak yang tidak memiliki kreativitas akan mudah merasa cemas dan tertekan ketika dihadapkan pada tugas-tugas yang majemuk. Anak seperti ini juga tampil kurang fleksibel. “Misalkan dalam berdiskusi, karena ia kurang dapat menghargai dan terkadang menganggap aneh ide temannya, yang menurutnya kurang sesuai dengan aturan yang ada. Ia juga biasanya kurang peka dalam melihat berbagai stimulus yang ada, yang sebetulnya bisa dimanfaatkan dalam pemecahan masalah.” Peranan orang tua terutama ibu selanjutnya yang dapat megoptimalkan kreativitas anak yaitu selalu memberikan waktu yang cukup untuk anak berpikir dan merenung serta berkhayal tentang suatu hal atau pada saat anak memecahkan suatu masalah maka anak tersebut telihat tampak lebih dapat mengoptimalkan kreativitasnya untuk menciptakan inovasi dibandingkan dengan ibu yang selalu menentukan pilihannya terhadap keinginan anak sehingga anak tersebut tidak dapat mandiri dan kurang kreativitasnya. Ibu yang cenderung bersikap otoriter dalam pengasuhannya cenderung membuat anak bersikap ketakutan dan tidak terlatih untuk berinisiatif serta tidak mampu menyelesaikan masalahnya dan tidak mampu membuat suatu kreasi yang bermakna.

Penutup
Menjadi seorang ibu bukanlah suatu hal yang mudah, ia dituntut agar menjadi sebuah panutan pertama bagi anak-anaknya. Sang ibu juga harus menjadi sebuah role model yang terbaik untuk anak-anaknya. Terutama ketika berada di era perkembangan teknologi yang semakin maju ini. Para ibu-ibu harus menjadi seorang yang multitalenta dan kreatif untuk anak-anaknya, agar anak-anaknya dapat menjadi seorang yang kreatif dan membuat inovatif baru bagi bangsa. Hal tersebut tidak hanya ditujukan untuk mereka para perempuan yang telah menjadi ibu, tapi juga ditujukan bagi mereka seluruh para perempuan di dunia khususnya di Indonesia yang akan menjadi ibu. Berdasarkan International Journal “The Psychology of Creativity Growth and Strategirs” menyatakan bahwa menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas tergantung pada berbagai faktor individu dan social seperti kecerdasan, keluarga, sifat pribadi dan lain sebagainya. Meninjau kembali pada realitanya yang dimana manusia saat ini yang seringkali melupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang wanita terutama mereka yang sudah menjadi ibu. Banyak ibu-ibu juga calon ibu yang lebih mementingkan karirnya dibandingkan dengan mendidik anaknya dirumah, padahal kesuksesan seorang ibu bukan berasal dari tingginya karirnya tapi bagaimana ia bisa mendidik anak-anaknya. Hal tersebut dikarenakan ketika karir tersebut gagal maka bisa diulang, ketika bisnis gagal maka bisa diulang, namun ketika mendidik anak gagal maka tidak bisa diulang dan bahkan akan berdampak sangat buruk kedepannya terhadap siapapun terutama pada diri anak tersebut dan orang tuanya.
Perlu diketahui bahwa perkembangan revolusi industry 4.0 saat ini udah hampir berakhir dan akan menginjak revolusi industry 5.0. Indonesia masih perlu banyak sekali inovasi-inovasi dari generasi bangsa selanjutnya, kemajuan bangsa ini akan bermula dan menjadi sukses dari adanya sebuah pendidikan. Dengan suksesnya pendidikan maka seluruh aspek yang ada di Negeri ini akan sukses pula, dikarena dengan adanya pendidikan maka bertambah pula ilmu yang ada baik ilmu umum maupun ilmu agama dan akhlak. Pendidikan akan sukses jika guru-gurunya menjadi guru yang kreatif dan diberdayakan, terutama guru yang mengajarkan ilmu-ilmu yang tidak didapatkan di sekolah, yaitu guru dalam keluarga. Yang dimaksud guru keluarga disini adalah ibu. Maka bisa disimpulkan bahwa kemajuan bangsa ini untuk mewujudkan revolusi industry 4.0 yang paling inti adalah dimulai dari adanya peran ibu-ibu yang kreatif dan bijak dalam mendidik anak-anaknya untuk menjadi seorang yang kreatif dan inovatif.

DAFTAR PUSTAKA
2012forum.com/science/memahami-perbedaan-antara-kreatif-dan-inovatif/
Ejournal.iainsurakarta.ac.id/index.php/academica/article/view/1030
Hanum, Septi Latifa. Peran Ibu Rumah Tangga dalam Membangun Kesejahteraan Keluarga. Journal of Multidisiplinary Studies Vol. 1 No. 2, Juli-Desember 2017 ISSN: 2579-9703 (P) | ISSN: 2579-9711 (E).
ibudanbalita.com/artikel/peran-orangtua-untuk-mengembangkan-kreativitas-anak
Jurnaldikbud.kemdikbud.go.id/index.php/jpnk/article/view/295
Lestari, Barkah. Upaya Orang Tua Dalam Pengembangan Kreativitas Anak. Jurnal FISE Universitas Negeri Yogyakarta.
Nurhayati dan Syahrizal. Urgensi Dan Peran Ibu Sebagai Madrasah Al-Ula Dalam Pendidikan Anak. Itqan, Vol. Vi, No. 2, Juli – Desember 2015 (ejurnal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/itqan/article/view/49/45).
sahabatnestle.co.id/content/gaya-hidup-sehat/tips-parenting/bagaimana-mengarahkan-anak.html
Setiti,Sri. Peranan Ibu Dalam Menyiapkan Anak Agar Kreatif Sebagai Upaya Membentuk Jiwa Wirausaha. Jurnal FakultasEkonomi UniversitasLambungMangkurat (Unlam) Kalimantan Selatan.
setkab.go.id/revolusi-industri-4-0-dan-transformasi-organisasi-pemerintah/
ustadzyahya.blogspot.com/2017/01/madrasah-pertama-adalah-ibu-dan.html
Yulianti, Tri Rosana. Peranan Orang Tua Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini (Studi Kasus Pada Pos Paud Melati 13 Kelurahan Padasuka Kecamatan Cimahi Tengah). Jurnal EMPOWERMENT Volume 4, Nomor 1 Februari 2014, ISSN No. 2252-4738

Mungkin Anda Menyukai

%d blogger menyukai ini: