Sacrifice, Honestly, and Freedom

Oleh:

M. Fauzin Nur

Mahasiswa Bidik Misi angkatan 2018

 

Hidup adalah pilihan, terus melangkah dan menemui kesulitan-kesulitan baru atau berhenti dan mati termakan waktu, keadaan, dan terbuang tak berguna. Aku terlalu sulit memahami diriku sendiri, dan mungkin aku akan mencari diriku sendiri sampai nanti sampai waktu yang aku sendiri tidak tahu kapan akan terheneti, namun seperti yang terlihat sekarang aku memilih untuk terus berjalan dan mulai menemui keulitan-kesulitan baru yang datang satu persatu, aku bermimpi atas hidupku, keluargaku, dan entah apa yang mendorongku bermimpi. Aku kagum dan tertarik dengan tiga kata yang luar biasa artinya Sacrifice, Honestly, and Freedom, yang secara sederhana bermakna pengorbanan, kejujuran, dan kebebasan. Ketiga kata itu tidak berasal dari kamus bermiliaran kata melainkan dari novel yang pernah ku baca, yang menimbulkan emosi dan menciptakan motivasi untukku, ketiganya sesuatu yang tidak dapat aku maknai dengan luas tapi aku tertarik padanya. Tiga kata yang mengambarkan diriku dan cita-cita serta ambisisku.
Semuanya dimulai sejak sekolah menengah pertama berawal dari cita-citaku menjadi seorang guru, aku bertekad untuk mencapai cita-citaku. Dan hal yang selalu aku katakan kepada diriku sendiri dan kertas kertas catatan ku adalah bahwa suatu hari nanti aku akan kuliah.
Semua orang dari segala kalangan, segala daerah, dan segala keadaan berhak atas masa depannya, apa yang akan dia pilih dan bagaimana dia dapat mencapai cita-citanya, hal yang tidak pernah kulupakan adalah ketika Allah telah menakdirkan bahwa aku harus disini, disebuah Universitas Islam yang mungkin dapat mengantarkan ku pada mimpi dan mencerahkan masa depanku.
Pengalaman pahit ketika akhir masa sekolah menengah atas, ketika banyak perguruan tinggi menolakku dan hanya ada satu perguruan tinggi yang dengan tangan terbuka dan aku bayangkan mungkin dengan senyum manis menyambut kedatanganku dan mengizinkan ku menuntut ilmu disini, hal yang tidak masuk akal namun itulah yang aku pikirkan untuk meyenagkan hatiku sendiri.
Sebagai anak dari seorang yang ekonominya ditingkat menenagh ke bawah aku menyadari bahwa pendidikan diperguruaan tinggi tidaklah semurah dan semudah disekolah dasar dan sekolah menengah, banyak suara berbisik bahkan berteriak impposible you can, kamu pasti bisa bagaimana mungkin kamu bisa kuliah?tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini yakinlah bahwa Allah selalu mendengar doa setiap hambaNya aku merasakan bagaimana dorongan dan tarikan disekeilingku menjatuhkan dan mengangkatku seakan mereka berkolaborasi dalam dalam sekali untuk menempa ku menjadi berani, dan tidak mudah jatuh, tapi apapun itu aku disini sekarang untuk kalian yang mendukungku dan kalian yang mencoba untuk menjatuhkan ku.
Bidik misi menjadi salah satu jalan dari berbagai jalan yang Allah berikan kepada para siswa yang kurang beruntung untuk tetap melanjutkan mimpinya dan merasakan bangku kuliah, ya salah satunya adalah aku. Banyak dari mereka yang tidak mengerti betapa prosesnya sanagat luar biasa, melelahkan, menyakitkan, dan mendebarkan. Itu sangat melelahkan karena syaratnya sangat banyak dan semuanya aku tangani sendiri, mulai dari ke RT, Kelurahan, Kecamatan, dan Sekolah yang harus aku lakukan dengan bolak balik pulang pergi (karena sekolahku diluar Kabupaten asalku).
Inilah kisah inspiratif ku perjuanganku untuk berdiri disini sebagai salah satu mahasiswa bidimisi, semoga menginspirasi dan membuat kita ingat masih banyak orang yang berada dibawah kita walaupun lebih banyak orang yang berada diatas kita, keduanya sebagai motivasi kita meraih ambisi yang kita bangun.
Hal yang sangat perlu diingat adalah bidikmisi bukan hanya kumpulan atau wadah bagi kita orang dari kalangan ekonomi menegah kebawah, namun kita yang berprestasi. hal ini perlu kita tanamkan dalam diri sendiri sebagai cambuk untuk menjadi percaya diri namun tidak berlebihan dalam memeprcayai diri sendiri. Kita diwajibkan mngumpulkan sertifikat penghargaan, nilai raport, serta keterangan peringakt dari kepala sekolah (prestasi akademik dan prestasi non akademik).
Prosesnya berat ketika selesai menempuh pendidikan menegah atas, saya pulang kerumah orang tua saya, pengumuman pendaftaran bidik misi berjarak agak jauh dengan awal liburan itu sekitar hari- hari mendekti keberangkatan saya ke Surabaya. Ketika saya sudah ada di rumah dan berjarak beberapa minggu pengumuman bidikmisi keluar diwebsite UINSA membuat saya tercengang ketika syaratnya mengharuskan saya kembali ke sekolah tapi aku bersyukur pengumuman keluar sebelum saya berangkat ke Surabaya. Hari itu juga saya berangkat mengurus syarat-syarat ke sekolah saya, butuh waktu lama diperjalanan, edit surat yang salah ketik sampai akhirnya saya selesai siang menjelang sore dan hari itu juga saya pulang sampai dirumah tepat setelah Isya.
Selain mengurus surat-surat kesekolah hal lain yang perlu diurus adalah surat dari Balai Desa dan Kecamatan, hal yang kadang membuat saya merasa capek adalah ketika kita sudah capek capek tapi bertemu petugas atau pegawai (tepatnya) yang berwajah tidak ramah, mungkin ini tidak jadi masalah buat sebagian orang tapi untk sebagaian yang lain ini adalah masalah, salah satunya adalah saya, hehe..
Hal yang paling saya ingat adalah ketika membuat Surat Keterangan Penghasilan Orang Tua ketika sampai di Kecamatan dengan percaya diri mengantri dnegan membawa berkas yang sudah ditempeli matrai enam ribu (tanpa tanda tangan orang tua saya). Belum sempat saya bicara sudah ditunjuk matrai enam ribu tanpa tanda tangan itu, detik itu juga saya bilang mohon maaf pak, nanti saya akan kembali setelah meminta tanda tangan orang tua saya membuat saya menambah jumlah pulang pergi saya selama sehari dn itu rasanya sungguh melelahkan. Untungnya saya terbiasa berjala jarak jauh so its no problem.
Semua berkas siap, dengan uang saku cukup saya berangkat ke Surabaya dengan perasaan senang, sedih, intinya perasaan saya hari itu nano nano, campur aduk, dan saya diam sendiri karena saya beranagkat sendiri dari Wonosobo ke Purwokerto kemudian Puwokerto ke Surabaya. Benar saja ketika sampai di kos yang saya pesan lewat online ternyata kamar saja tanpa kasur, meja, almari, hanya satu ruang kosong, dan hari itu detik itu rasanya saya ingin teriak sekeras kerasnya, ingin lari pulang dan tidak ingin melanjutkan kuliah.
Saya berfikir panjang selama beberapa jam, akhirnya saya memutuskan untuk menginap di kos kosog itu selama bebeapa hari sampai saya menemukan kosyang lebih dekat dengan kampus, dan ada isinya dipinjami lah saya satu karpet, banatal, dan kipas angin terimakasih banyak mba Lia.
Malam itu juga lewat jam delapan malam saya keluar kearah UINSA berjalan kaki dari Kutisari sampai kampus tidak nyasar karena mungkin lebih dari lima orang yang saya tanyai arah ke UINSA. muter muter tanya orang dakah kos didekat sini, sendirian saya jalan pulang pergi tapi mungkin buka riski saya ketika saya tanay banyak yang jawab tidak tahu, kalaupun ada tulisan terima kos saya datangi pati jawabnya sudah penuh, itupun saya bertanya dalam keadaan ragu karena uang yang saya bawa enaath cukup entah kurang dan saya belum berani mengabari orang tua dirumah takut mereka khawatir walaupun saya duduk di masjid kampus cukup lama, ditemani teman saya lewat sambungan telepon terimakasih untuk teman saya fera yang sama-sama mahasiswa bidikmisi tapi di UGM.
Dengan penuh kepasrahan saya berjalan pulang ke kos, dan tanya pada satpam yang jaga informasi mengenai pesantren mahasiswa di UINSA, katanya besok pagi saja mas datang kesini lagi di masjid lantai dua plus saya dapat nomor whatsapp pengurus pesantren mahasiswa Ustadz Batiar. Tidak lagi dengan rasa pasrah namun semangat saya balik ke kos yang ada di Kutisari kali ini naik angkutan umum. Samapai dikos langsunglah saya kontak nomor Ustadz Bahtiar dan alhamdulillah jawabannya insyaallah masih ada, besok langsung saja datang ke masjid kampus jam delapan dengan membawa surat-surat sebagai persyaratannya ya sungguh aku bayangkan wajah Ustadz yang saya kontak dala keadaan tersenyum, saat itu juga saya menangis entah ini tangis bahagia, atau tangis terluka akan keadaan atau mungkin karena terlalu lelah saya ingat betul yang saya tuliskan dibuku catatan adalah ‘hari ini saya terlempar atau terdampar atau mungkin saya meceburkan diri di kota ini Surabaya
Akhirnya sudah pasti saya dapat tempat tinggal di Pesantren Mahasiswa UINSA, hal yang sangat saya syukuri hari itu juga saya berani memberi kabar orang tua dirumah bahwa saya sudah dapat tempat tinggal dn bisa ditempati mulai tanggal dua puluh enam Agustus dua ribu delapan belas.
Lanjut ke proses beasiswa bidikmisi, bagaimana saya secara siaga menunggu pengumuman selanjutnya tetang bidikmisi, dan saya masih ingat saya orang pertama yang mengumpulkan berkas- berkas yang awalnya ditolak karena saya belum melakukan pendaftaran secara online, saya bingung seketika apa lagi ini? Batinku. Saya pikir pendaftran online sudah sama atau menjadi satu dengan pendafatarn bidikmisi waktu pengisian data SNMPTN tapi ternyata tidak, hari itu juga saya langsung daftar online, kemudian besoknya saya lengkapi berkas berkas yang kurang untuk diserahkan kebagian kemahasiswaan di Twin Tower lantai empat, dan finnaly berkas saya diterima dan tinggal saya berdoa lolos apa tidak dan menunggu hasilnya, selama itu juga saya siaga luarbiasa website yang paling sering saya kunjungi adalah webistenya UINSA hampir setia hari memastikan peengumuman lolos bidikmisi.
Hari demi hari berlalu aku larut dalam penantian ku sampai pada akhirnya ada kabar bahwa ada survei datang ke rumah. Inilah tinggal selangkah lagi apakah lolos atau tidak dana saya mulai menambah kuantitas dan kualitas doa saya, hingga pada akhirnya waktu sore setelah ashar saya dibangunkan teman saya Oslam namanya memberi kabar kalau saya lolos bidikmisi denga kata lain saya sebagai penerima beasiswa bidikmisi tahun dua ribu delapan belas, padhal sebelum tidur sudah saya cek di website UINSA dan masih belum ada pengumuman jadi saya agak kurang percaya sebelum saya meilihat sendiri pengumuman itu, aku minta file sama temannya terjakit pengumuman bidikmisi tahun lalu dan benar saja ada nama saya, saya tidak begitu saja percaya dengan apa yang saya lihat mungkin kalau dihitung lebih dari lima kali saya melihat pengumuman itu sejak pertama saya dapat dan barulah saya yakin bahwa saya lolos bidikmisi. I am so speechless to know that, to remember my strugle to get that, and that time i am so blessed. I am sure 1000 percent that i can continue my study without make my parentas to much bussines and thingking out loud of me.
Belum selesai… masih ada syarat lagi sebagai calon penerima beasiswa bidikmisi surat integritas, yang mengharuskan ada tanda tangan dari kepala Desa tempat tinggal, saya pikir itu mudah tinggal di scan jadi. Benar saja itu bisa langsung diterima dengan pegwai di Twin Tower bagian kemahasiswaan tapi dengan catatan ini hanya untuk sementara dan yang asli wajib diserahkan kepada kami, sigap saja saya tipe orang yang mudah cemas atau panik jadi langsung saya hubungi orang dirumah untuk segera mengirimkan surat integritas yang asli, secepatnya. Tidak secepat yang saya duga itu perlu waktu satu minggu dan saya bingung diamna surat integritas itu berada, di asrama tidak ada kiriman datang atas nama saya, saya coba cari informasi ternayata kiriman masuk di twiin tower, dan tepat disana saya lupa tempat pastinya banyak sekali kiriman barang ada surat juga, tapi surat saya tidak da disana waktu dilihat dicatatan keluar masuk barang ternayata surat saya sudah ada di asrama, saya coba cek diasrama tidaka ada, informasi lain bilang kalau kiriman mungkin bisa saja ada di masjid kampus lanati dua, hasilnya benar sekali hari itu juga saya ke masjid saya ambil dan lansgsung saya kumpulkan ke bagian kemahwiswaan di twin tower lantai empat.
Saya rasa saya bisa dapat beasiswa bidikmisi karena saya memang dari kalangan ekonomi yang seharusnya mendapatkan itu, kata Sacrifice (pengorbanan) saya rasa banyak pengorbananyang saya lakukan ataupun yang oralnglain lakukan untuk membantu saya mendapat beasiswa bidikmisi, (jujur) jujur pad diri snediri dan pada orang lain tentang apa, siapa, dimana, bagaiman, dan mengapa because honestly show who you are dan tang terakhir adalah Freedom (kebebasan) mengambarakan small part of my self yang selalu mengingkinkan dan berambisi memiliki kebebasan. Bebas dari kebodohan, bebas finansial, dan bebas dari mebebani orang tua.
Selain itu dari cerita panjang perjalanan saya yang saya tulis secara singkat, sesingkat mungkin menunjukan saya yang mekukan semuanya sendiri bukan karena saya tidak memiliki orang tua, atau bukan karena orang tua saya tidk perduli dengan anaknya tapi karena saya egois memikirkan keinginan saya sendiri, keinginan untuk tidak merepotkan orang lain terutama orang tua, keinginan agar orang tua tidak melihat ketika saya lelah, melihat saya jatuh dan melihat saya dalam situasi yang kurang baik. Karena saya hanya ingin mengandeng orang tua saya ketika saya dalam keadaan senang saja.
Saya mengucapkan banyak terimaksih kepada orangtua dan sudara-saudara saya yang sellau mendukung dan membantu saya, kepada guru sekaligus ibu saya yang mendorong secara moril dan materi yang medukung dan serta menguatkan saya, kepada teman teman saya yang memberikan semangat dan dorongan kalian, serta waktu, kepada orang-orang yang berperan besar dalam perjuagan sya mendapatkan beasiswa bidikmisi dan sekalaigus menjadi mahasiswa di UINSA.
Mungkin ini terlalu dramatis but this is real story based on my true story and my journey setiap orang punya kisahnya masing- masing dan diatas adallah ceita panjang yang saya persingkat menjadi kurang lebi dua ribu kata.
We are young, we have to do our best, to all of round us
Be great and never give up
SEE YOU ON TOP

Mungkin Anda Menyukai

%d blogger menyukai ini: