Ibarat Busur & Anak Panah

Oleh:

Ade Rima Miranti

Mahasiswa Bidik Misi angkatan 18

Hai… Namaku Ade Rima Miranti, seorang gadis perantau yang berasal dari Jambi, Sumatera Selatan. Aku adalah mahasiswi di Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, prodi yang aku ambil yaitu Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah dan Hukum. Banyak orang yang bertanya, “kenapa kok jauh-jauh kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya? Padahal sekarang banyak kampus bagus di Sumatera ”. Dan berulang kali pula aku menjawab “Takdir dari Allah, kalau kehendak Allah aku kuliah di kampus ini, aku bisa apa?”. Sebenarnya aku juga tidak mengerti hal apa yang membuat hatiku memilih dan membawa langkahku menuju tempat ini, tapi ada satu hal yang aku percaya, di balik semua ini rencana tuhan telah dipersiapkan dan dirancang sedemikian rupa. Tugasku hanyalah belajar dan mengembangkan diri disini, agar nanti ketika aku diberi kesempatan untuk menjalankan profesi di suatu lembaga, aku dapat mempraktikkan ilmuku dan berinovasi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat.
Aku seorang yatim, Ayahku sudah meninggal sejak aku kelas tiga SMA, tepatnya satu minggu sebelum Try Out Ujian Nasional 2018 dimulai, dengan meninggalkan empat orang putri yang masih belia yang sangat membutuhkan sosok seorang ayah dan juga membutuhkan banyak biaya untuk pendidikan. Aku sebagai anak sulung merasa terpukul dengan kepergiaan ayahku, namun saat itu pula aku sadar bahwa aku sebagai contoh untuk adi-adikku harus mampu bekerja sama dengan ibuku untuk sama-sama memikul beban yang ibuku pikul sendiri setelah ketiadaan ayahku.
Aku sempat berpikir untuk berhenti melanjutkan studi sampai di tingkat SMA saja, namun dengan kerasnya ibuku menentang dan memaksaku untuk tetap melanjutkan studi di bangku perkuliahan. Keputusanku itu tak lepas dari rasa khawtir membebani ibu dengan biaya kuliah yang cukup mahal, namun ibu terus meyakinkanku, ia menyanggupi dan berkata begini “Nak, Ibu memang sendiri mencari nafkah saat ini, tapi bukan berarti ibu tidak mampu membiayai Ade, akan ada saja jalan Allah memberi rezeki untuk biaya kuliah Ade, kalau bukan kita yang mengubah jalan hidup kita, siapa lagi Nak? Ade jangan menyerah disini saja ya, kita gapai sama-sama keinginan Ade.” Dan dari situlah jiwaku terpanggil untuk melanjutkan sekolah ke bangku pekuliahan.
Kisah perjuangan pertama dimulai, Aku mulai mencari informasi tentang kuliah gratis, bahkan juga mencari tahu tentang sekolah kedinasan, namun ibuku memintaku untuk kuliah di kampus Islam saja, alasannya karena selain bisa mempelajari ilmu umum juga mendapatkan kajian mengenai keislaman, sebagai anak yang baik aku menuruti permintaan ibuku, dan pilihanku jatuh kepada UIN Sunan Ampel Surabay sebagai Universeitas Islam terbaik ke-3 di Indonesia setelah UIN Syarif Hidayatullah dan UIN Sunan Kalijaga. Setelah itu aku mendaftar lewat jalur SPANPTKIN dan akhirnya diterima di UINSA Surabaya dengan pilihan pertama.
Langkah selanjutnya penentuan UKT, semua berkas disetorkan secara online karena aku berada di Jambi. Beberapa hari setelah itu, Jumlah UKT yang harus dibayarkan diumumkan, beruntungnya UKT yang aku peroleh tergolong rendah. Namun kendala muncul ketika aku ingin melakukan pembayaran UKT, ternyata di Bank BTN Jambi belum bisa melakukan pembayaran UKT, teller Bank memberitahu bahwa aku harus membayar ke Bank BTN kampus yang dituju atau di kota sekitarnya, Padahal sudah seharian aku mengantri di Bank tersebut karena padatnya costumer yang berkunjung. Setelah itu Ibuku menghubungi saudara yang berada di Surabaya untuk dimintai bantuan membayarkan UKT di Surabaya, tapi hari sudah terlalu sore dan Bank BTN sudah tutup dan tidak melayani transaksi apapun. Bibiku langsung menemui salah satu staf terkait untuk memohon perpanjangan waktu untuk melakukan pembayaran UKT, lagi-lagi Allah memberikan kemurahannya, staf tersebut memberi toleransi waktu sampai hari lusa, dan besoknya Bibiku langsung membayar UKT di Bank BTN.
Saat hari keberangkatan yaitu dua hari sebelum PBAK MABA UINSA 2018, aku berangkat seorang diri, Ibu hanya mengantar sampai bandara Jambi saja, kami meminimalisir pengeluaran agar uang yang tersisa dapat digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Padahal saat itu adalah pertamakalinya aku naik pesawat, bertanya dan bertanya terus adalah satu jurus andalanku saat itu. Cerita sedihnya, aku membawa barang yeng melebihi muatan, yaitu > 20kg. Untuk bisa dimasukkan ke bagasi pesawat, aku harus membayar RP500.000, karena biayanya yang terlalu mahal aku memutuskan membawa barang itu sendiri, barang tersebut tergolong berat, sampai-sampai bahuku terasa keram saat membawanya. Cerita lucunya, saat sudah di pesawat aku menduduki kursi yang salah, karena pesawatku transit terlebih dahulu ke Jakarta maka ada dua tiket, yang aku lihat saat itu adalah tiket dari Jakarta ke Surabaya, padahal saat itu aku baru berangkat dari Jambi ke Jakarta. Untunglah pemilik nomor kursi yang aku duduki mau bertukar kursi denganku.
Pukul empat sore aku tiba di Bandara Djuanda Surabaya, namun Pamanku masih bekerja dan aku diminta untuk menunggu. Beberapa jam kemudian Pamanku menjemput pukul sembilan malam, walhasil aku menunggu 5 jam lamanya, aku sedikit kesal tapi aku seharusnya bersyukur pamanku masih menyempatkan waktu untuk menjemputku. Hal yang tak terduga saat itu adalah ternyata Pamanku menjemput menggunakan motor, kami bingung bagaimana membawa barang-barangku dengan hanya menggunakan motor. Aku mencoba memangku koper besarku yang kira-kira beratnya sekitar 19kg, namun di 1/6 perjalanan pahaku sudah keram dan kami memikirkan cara lain unruk membawa barang-barangku. Akhirnya kami memesan ojek online, namun mereka semua menolak dan meminta pembatalan pesana, hal itu berulang sampai pada ojek yang ke-3, kami memesan ojok yang ke-4 kalinya, dan beruntungnya ojek tersebut membawa karet ban dan bersedia membawa barangku menuju asrama UINSA.
Setibanya di asrama UINSA, aku bersyukur hari berat itu akhirnya hampir berakhir juga. Namun kamarku berada di lantai 5, akupun bingung bagaimana cara membawa barangku sampai ke atas, dengan koper besar dengan berat 19kg dan tas jinjing dengan berat 7kg. Untungnya pengurus asrama membolehkan Pamanku membantuku membawa barang-barang ke atas, peristiwa itu adalah perjuangan yang tidak mudah, aku benar-benar bersyukur pamanku bersedia membantu. Sesampainya diatas pamanku berpamitan dan aku mulai menyusun barang. Aku sampai sekitar p
Berlanjut pada kisah perjuangan kedua, saat sudah melewati beberapa bulan proses pembelajaran di UINSA, muncul pemberitahuan bahwa ada pembukaan pendaftaran bidikmisi. Akupun mendaftarkan diri. Berkas-berkas yang diperlukan aku persiapkan namun ada beberapa persyaratan yang belum ada dan perlu diurus. Persyaratan yang belum ada dikirim melalui POS KILAT KHUSUS dan sampai dalam waktu 2 hari. Tidak banyak kendala ketika menyiapkan berkas, hanya saja ibuku bolak-balik ke kantor camat untuk mengurus persyaratan karena pihak terkait tidak berada di kantor.
Kendala mulai muncul ketika mendekati tahap survei rumah, dimana rumahku sangat sulit untuk dijangkau sedangkan waktu yang dimiliki untuk melakukan survei sangatlah terbatas. Seminggu sebelum survei, aku dipanggil untuk diwawancarai, dan dari percakapan tersebut ada beberapa kata mengecewakan yang terlontar dari pewawancara. Aku menceritakannya pada ibuku, dan ibuku memberikan supportnya yang membuat aku kembali bersemangat.
Staf terkait yang ditugaskan melakukan survei terus menghubungi ibuku dan juga aku untuk memastikan jalur yang ditempuh untuk dapat sampai ke rumahku, dan berdasarkan kesepakatan bersama, ibuku menjemput staff terkait di daerah kabupaten, setelah itu barulah sama-sama menuju ke rumahku untuk melakukan survei dan beberapa dokumen yang perlu ditandatangani oleh beberapa perangkat desa dan tetangga terkait. Saat itu ibuku menginap ditempat orangtua angkatnya yang berada tidak jauh dari pusat kabupaten. Kami memang tidak mempunyai keluarga kandung di Jambi, kami orang perantai yang berdomisili di Jambi, keluarga ibuku berada di Riau sedangkan keluarga ayahku berada di Bengkulu.
Setelah melalui beberapa proses, tahapan-tahapan seleksipun telah selesai, selanjutnya yaitu menunggu pengumuman lolos seleksi. Ibuku berpesan, “apapun hasilnya, percayalah bahwa itu yang terbaik, seandainya Ade gagal pasti ada rencana lain dari Allah. Ade jangan berharap terlalu besar Nak, kadang yang membuat kita jatuh terpental itu adalah hal yang terlalu besar. Kita pasrahkan saja sama Allah, tahap perjuangan kita sudah selesai dan sekarang kita hanya perlu tawakkal saja”. Aku terus menyelipkan doa kepada Allah di sholat malamku untuk diluluskan dalam seleksi Bidikmisi 2018, karena saat itu hanya itu yang bisa kuusahakan, tak lupa aku terus meminta doa dari ibuku tercinta, aku percaya doa ibu sangat berperan penting dalam pencapaian anaknya.
Beberapa minggu setelah itu, pengumumanpun dirilis di website resmi UIN Sunan Ampel Surabaya. Saat itu aku aku sedang di asrama bersama teman kamarku, kira-kira sekitar pukul sembilan pagi, aku sedang mengerjakan tugas dari dosen MKD Studi Islam. Tiba-tiba salah satu teman kamarku berteriak, “Ade, kamu lulus Bidik Misi, Namamu tercantum disini!”. Akupun melihat pengumuman tersebut dan betapa kagetnya aku, aku lulus dalam seleksi tersebut. Saat itu perasaanku dipenuhi dengan haru. Rasa bahagia dan penuh syukurpun memenuhi dadaku, aku langsung melaksanakan sholat Duha dan melakukan sujud syukur atas pemberian Allah di pagi hari itu. Setelah melakukan sholat aku memberitahukan ibuku lewat telepon genggam yang aku punya, betapa senangnya aku mendengar ekspresi bahagianya, tiada kata yang dapat mewakili rasa bahagiaku saat itu, hanya kalimat “Alhamdulillah” yang terus saja terucap lirih dari bibirku.

Aku sangat bersyukur atas apa yang aku terima, namun rasanya masih ada yang kurang, seandainya bapak masih ada disini, ia pasti senang mendengar berita baik ini, seketika saja hatiku terasa tergores, tiba-tiba saja rinduku jadi tak menentu. Tapi apa boleh buat, semoga bapak menemukan kebahagiaan lain di sisi Ilahi Rabbi. Dari peristiwa itu aku percaya bahwa usaha dapat diibaratkan busur panah yang berfungsi untuk melontarkan anak panah supaya mengarah ke sasaran, sedangkan doa layaknya anak panah yang berfungsi untuk menembak ke bagian sasaran. Jadi dalam mencapai sesuatu, antara ikhtiar dan tawakkal adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Seperti kata orang, “USAHA TANPA DOA adalah SOMBONG dan DOA TANPA USAHA adalah BOHONG!”
Sejak pengumuman lolos Bidikmisi, sejak saat itu pula aku terdaftar sebagai salah satu penerima Bidikmisi 2018, tentunya tidak mudah mendapatkan beasiswa tersebut apalagi mempertahankannya. Perjuanganku belum selesai sampai disini saja, bahkan saat ini perjuangan yang lebih berat baru dimulai, untuk mempertahankannya haruslah dengan bekerja keras agar tetap dapat menjaga kepercayaan yang diberi.
Ada banyak sekali pelamar beasiswa Bidikmisi pada tahun 2018 kemarin dan beruntungnya aku diterima menjadi salah satu dari bagian keluarga ini. Perjuangan untuk mendapatkan beasiswa ini adalah berkat kerja keras dan kesabaran dari seluruh pihak terkait yang membantuku, terutama perjuangan ibuku tercinta. Senang rasanya bisa meringankan beban biaya yang ditanggung ibuku, dan semoga aku dapat menggunakan dana yang telah diberikan dengan sebijak mungkin agar tidak hanya dapat bermanfaat untuk hidupku tapi juga untuk orang-orang di sekitarku. Senang rasanya bisa bergabung di AMBISI 2018, The Dreams Will Come True. Sekian cerita dariku, semoga dapat mengispirasi teman-teman yang membaca, terimakasih:)

Mungkin Anda Menyukai

%d blogger menyukai ini: