Mengoptimalkan Peran Pemuda Bangsa

Oleh Hotimah Novitasari

Pendidikan merupakan sisi kehidupan terpenting. Orang yang berpendidikan merupakan aset bangsa yang berharga.Namun, seringkali pendidikan harus berbentur dengan kesejahteraan bangsa.Bagaimana masyarakat akan sejahtera apabila sebagian besar penduduk negeri tidak berpendidikan dan banyak yang menganggur lantaran rendahnya pendidikan yang menjadi syarat utama dalam mengambil sebuah peluang pekerjaan?Sehingga sebagian orang harus terpaksa menjadi tenaga kerja di luar negeri.Anak-anak mereka tidak diperhatikan secara maksimum atau bahkan terlantar.Anak didik bangsa yang berkarakter merupakan PR pemerintah, namun tidakkah kita ingin menjadi penggerak dalam sebuah perubahan? Tidakkah kita ingin kelak ketika menghadapi bonus demografi (2020-2030) Indonesia telah menyelesaikan permasalahan sosialnya dan telah siap menjadikan anak didik bangsa sebagai agen perubahan?Anak-anak buruh tani imigran merupakan sebagian aset bangsa yang juga perlu diperhatikan.Mungkin saat ini, mereka belum memberikan kontribusi dan aspirasi mereka.Namun, 15 atau 20 tahun kedepan bisa jadi karena merekalah negara kita mengalami perubahan yang lebih baik.Sudah seharusnya saat ini merekonstruksi kembali  nilai-nilai moral bangsa dengan merevitalisasi peran pemuda dalam membantu kemajuan bangsa, khususnya dalam dunia pendidikan yang berkarakter pada anak buruh tani imigran.

Revitalisasi peran pemuda dalam pemerataan pendidikan berkarakter pada anak buruh tani imigran merupakan upaya rekonstruksi nilai-nilai moral anak didik bangsa yang mulai merosot.Hal tersebut menjadi kewajiban Negara untuk terus melestarikan nilai-nilai karakter leluhur suatu bangsa.Tugas tersebut bukan hanya diemban oleh satu agen, tetapi seluruh pihak memiliki peran di dalamnya.Meskipun pendidikan berkarakter telah dimulai oleh pemerintah Indonesia pada masa presiden pertama RI, Soekarno  (1965) melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila yang ditegaskan oleh Presiden Soeharto (1976) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila (PMP) kemudian diubah pada 1979 menjadi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dan pada tahun 1994 berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, namun masih perlu juga upaya dan peran pemuda didalamnya untuk berkonstribusi.Berdasarkan pengalaman filosofi, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya.Pada tahun 1983, Sejarah resmi menjadi mata pelajaran di dunia pendidikan guna dijadikan mata pelajaran yang dapat memberikan kontribusi pembentukan karakter melalui nilai-nilai moral para leluhur bangsa.Namun, apa di situ saja langkah untuk merekonstruksi karakter bangsa? Pemerintah telah mencanangkan lebih dari 17 juta kartu Indonesia pintar untuk anak-anak didik yang kurang mampu dan telah meningkatkan pendidikan dengan strategi melalui RAPBN sebesar Rp 40,09 triliun sebagai anggaran Kemendikbud.

Selain upaya pemerintah di atas, fenomena yang akan terjadi pada masa yang akan datang adalah hadirnya bonus demografi (2020-2030).Menurut Plh Deputi Bidang Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Ida Bagus Permana, Bonus Demografi dapat menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia, dengan syarat pemerintah harus menyiapkan generasi muda yang berkualitas tinggi SDM-nya melalui pendidikan, kesehatan, penyediaan lapangan pekerjaan dan Investasi.

Fenomena diatas sebenarnya  merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah yang sudah terlaksana.Namun, dalam praktiknya, pemerintah juga butuh action melalui agen of changes.Pemerintah tidak dapat begitu saja mengubah  karakter bangsa dengan waktu yang singkat dan upaya yang cepat.Masih diperlukan agen-agen perubahan dalam actionnya, siapakah mereka? Pemudalah yang menjadi aktor utama terpenting bangsa dalam melakukan perubahan kemajuan bangsa.Namun kenyataannya, saat ini Indonesia mengalami degradasi moral terutama pada anak-anak muda dan dunia pendidikan.Revitalisasi sendiri merupakan upaya membangun kembali peran pemuda dalam mendukung pemerataan pendidikan berkarakter khususnya untuk anak buruh tani imigran.Pendidikan berkarakter membutuhkan sosok aktor dan juga target.Ketika aktor sudah rusak, maka targetpun akan menjadi rusak.Langkah yang harus kita tentukan untuk merevitalisasi target dan aktor yaitu ketika peran pemuda sudah direvitalisasi, maka pendidikan berkarakter itupun akan terbangun sekaligus merata.Hal ini dikarenakan pemuda sudah mengerti apa tugas dan fungsinya.

Setelah kita mengetahui apa titik permasalahan target yang akan direvitalisasi, langkah selanjutnya yaitu membuat konsep untuk permasalahan tersebut.Hal yang perlu ditekankan pada pencapaian target adalah cut of the problem.Memutus rantai permasalahan dibawah actor permasalahan, maka hal itu merupakan cara yang tidak efektif.Bila kita hanya memutus permasalahan anak-anak buruh tani hanya membantu mereka secara mengambang atau dengan membantu permasalahan utama mereka secara ekonomi, maka hal tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahan bangsa.Bagiamana dengan permasalahan yang akan datang pada waktu selanjutnya yang dilihat  dari sudut pandang  lain bila kita hanya membantu dalam satu sudut pandang permasalahan?Maka dari itu dengan membantu menumpas calon-calon permasalahan baik dari sisi moral, psikologis, mental dan dukungan sangat diperlukan.Tidak hanya uluran tangan kita melalui dana sosial yang kita kontribusikan, namun dukungan moral dan semangat inspiratif akan membantu mereka bangkit untuk menjadi penerus bangsa Indonesia yang kelak akan membangun negeri ini lebih baik.Memulai dari diri sendiri tidak hanya mejadi pemuda yang menuntut perubahan namun mulai menjadi aktor perubahan bangsa dan merevitalisasi kembali nilai moral serta karakter leluhur bangsa.

Membantu anak-anak buruh tani imigran dengan tidak hanya memotong akar permasalahan dari atas merupakan mencabutnya dari akar permasalahan adalah langkah awal konsep perubahan.Namun merevitalisasi diri pemuda agar nilai karakter bangsa kembali hadir merupakan langkah pertama peran pemuda dalam mendukung pemerataan pendidikan berkarakter, khususnya untuk anak-anak buruh tani imigran yang tidak hanya membutuhkan uluran tangan tetapi juga dukungan moral.

 

Penulis mahasiswa bidikmisi UINSA’16

 

 

 

 

Mungkin Anda Menyukai

%d blogger menyukai ini: