Pertemuan Kami di Gedung Hijau

Oleh. Maftukhin

Episode 1

Saya masih ingat betul akan gedung berwarna hijau yang berbaris di pinggir jalan yang bersebelahan dengan lapangan sepak bola, tepatnya pada bulan Juni tahun 2012. Langkah kaki kecil ini bersama teman-teman mulai memasuki gerbang dengan cat berwarna coklat ketua-tuaan. Kurang lebih jam tangan saya menunjukan pukul 06.30, semua siswa-siswi mengenakan seragam warna coklat di hari Sabtu.

“Ver, ayok kita mencari ruang kelas kita,” ajakku. “Kata teman-teman, ruangan siswa itu ditempelkan di kaca kelas.”

“Ayok, Dil. Kira-kira kita satu ruangan apa tidak, ya?” Sambil berharap, karena saya dan fadil berasal dari satu desa dan belum terlalu mengenal siswa-siswi di sekolah ini.

Saya dan Fadil pun berjalan menyusuri kelas X yang kami awali dari kelas X1. Kelas X1 letaknya di sebelah Timur paling ujung, berdekatan dengan Musalah. Kami amati satu persatu dari daftar nama siswa yang berada dikelas X1. Sambil sesekali kami lihat kanan kiri, karena memang kami belum mengenal teman-teman kami yang baru.

“Ver, ini nama saya ada di dalam daftar kelas ini. Tetapi nama kamu kok tidak ada, ya?” Terlihat wajah polos Fadil yang tadinya sumringah tiba-tiba berupah gelisah. Bak langit yang dilalui mendung kelam pekat, kapanpun siap menjadi hujan, mungkin karena nama saya tidak ada di dalam daftar kelas X1.

“Iya, Dil !!! Berarti kita tidak sekelas, dong? Kira-kira saya dikelas mana, ya?”  Saya pun sesaat merasa takut karena belum kenal sama siapa-siapa. Ingin rasanya memasuki kelas X1, meskipun nama saya tidak ada di dalam absensi yang ditempelkan di kaca kelas X1 itu.

“Ver, coba kita lihat di kaca kelas lain,” ajak Fadil sambil memegang tangan kiri saya sembari berjalan menarik. Saya pun berjalan belihat tempelan sepucuk kertas absensi yang di tempel di jendela kaca. Dari kelas X2 sampai kelas X3 dengan teliti kami lihati. Sesekali kami harus terdesak oleh teman-teman yang lain. Memang hari ini adalah hari pertama pembagiyan kelas dan semua siswa-siswi pada mencari kelas mereka masing-masing.

“Dil, kok nama saya tidak ada, ya.” Dengan nada senduh dan tatapan yang polos saya melihati wajah Fadil yang lagi fokus mencari nama saya di tempelan kaca itu.

Karena tidak dijawab, maka saya menginjak sepatu Fadil,” apaan kamu ini, Ver! Sakit tau!” Decaknya. “Sepatu baru ini kok kamu injak, si.” Suasana seketika itu menjadi cair dan kekesalan yang ada dihati karena kami tidak satu kelas pun sempat terlupakan.

“Kamu si tak tanya, tidak kamu jawab.”

“Saya tidak dengar, Ver,” sambil memegang janggut, saya mencoba menoleh kearah gadis kecil cantik berkulit putih yang tertutup kerudung berwarna coklat dengan hiyasan bermotif bunga-bunga berwarna putih yang menghiasi kerudung coklatnya yang juga lagi mencari namanya di kertas yang ditempelkan di jendela kaca itu.

“Ver, lihat deh gadis itu,” ujarnya, sambil membisikan di telinga. Namanya Bungah.”

“Ah kamu ini, Dil. Saya mau mencari nama saya dulu, deh, nanti kalau sudah ketemu baru kita bicarakan gadis itu.”

Sambil meninggalkan Fadil yang lagi asik melihati gadis kecil itu, saya berjalan dengan sigap meninggalkan beberapa langka menuju kelas X4.

“He, Dil! Ayok temenin saya,” dengan suara keras, saya memanggil Fadil, agak jengkel, sih sebenarnya.

Sambil berjalan saya mendekati Fadil lagi dan menarik tangan kanannya serasa saya berkata” Ayok, Dil temanin saya dulu.

“Iya, Ver, tenang aja lagi, mungkin dari TU lupa tidak memasukan nama kamu kali,” sambil mengejek dan menepuk pundak saya.

Tepat berada di depan jendela kaca kelas X4, saya pun dengan teliti melihat nama saya, ternyata nama saya ada di dalam daftar kelas X4.

“Tin, namaku ada dikelas X4,” ujarnya.

“ iya Yuk, nama saya juga ada di kelas ini juga.” Kedua gadis itu tampak senang, seolah mendapatkan kado ulang tahun yang selama ini diharapkan dan sambil mendesak badanku yang berdiri tapat berada di samping kirinya. Saya pun kaget dan pensil yang dari pagi berada di genggaman tangan seketika jatuh, karena gadis kecil itu.

Saya pun melihati gadis itu. Agak aneh, sih, gadis kecil itu di panggil Yuk. Batinku seketika.

Kalau saya lihat tidak ada kesamaan dari raut mukanya, kenapa dipanggil Yuk, ya? Dalam hati, saya bertanya-tanya. Saya sempat ingat bahwa gadis itu namanya Bungah.

“Gimana, Ver, nama kamu ada tidak, di kelas ini?” Tanya Fadil sambil mengulurkan tangannya yang menelitih nama-nama yang tertempel di pengumuman kertas di kaca itu satu persatu. Dia berkata, “Ver, ini lo nama kamu.”

“He, kamu satu kelas sama Bungah,” ujarnya, “kalau gitu saya mau pindah satu kelas bersama kamu aja deh.”

Saya pun senang sekali karena Fadil teman baik saya ingin pindah satu kelas bersama saya.

Hari Minggu, (Sekolah masuk karena saya sekolah di MA), saya masih menggunakan seragam warna cokelat, sama seperti yang saya pakai pada hari Sabtu kemarin.

“Dil, kamu jadi, ta, pindah kelas bersama saya di kelas X4?” tanyanya, sambil bercanda gurau. Kami pun berjalan menuju kelas X1 bersama-sama.

“Jadi dong, Ver.” Ujarnya tegas dengan senyum. “Di kelasmu ada Bungah soalnya.” Sambil tertawa, berlari meninggalkan saya sendiri menuju pintu kelas X4.

“Dasar buaya darat! Melihat gadis kecil saja suda berani pinda kelas. Dasar ompong!” Saya sering memanggil dia ompong entah panggilan itu dari mana sumbernya, tapi teman-teman dalam kesehariannya sering memanggil dia ompong, padahal giginya tidak ompong.

Melihat Fadil yang sudah masuk kelas, saya pun dengan langkah kaki agak terburu-buru menuju pintu kelas X4. Sesampainya di depan pintu, sembari melihat anak-anak yang berada di dalam kelas, tidak satu pun yang saya kenal, kecuali Fadil si ompong itu yang telah duduk di deretan kedua dari Utara, sambil memanggil saya.

“He, Ver, ayok duduk di sini, jangan bengong saja di depan pintu,” dengan langkah kaki pelan dan malu-malu, saya pun menghampiri Fadil yang telah duduk di kursi barisan kedua paling belakang. Karena saya orangnya pemalu, saya pun sesekali melihat ke arah tempat duduknya dan sesekali membenarkan tas saya.

“Ver, kita duduk di belakang, ya.” Ujarnya kemudian. Saya heran, padahal masih ada kursi yang kosong di depan, kenapa Fadil memilih duduk di kursi belakang.

“Kamu tidak salah milih belakang?” tanyanya kemudian.

“Tidak salah, Ver. Di depan kalau kita nyontek mudah ketahuan, karena tidak ada yang menghalangi pandangan guru ke kita,” sambil tertawa pelan-pelan, anak-anak pun melihat kearah kita.

“Hu dasar cowok kerjaannya nyontek.” Gadis kecil itu dengan nada sindiran menanggapi pembicaraan saya dan Fadil, meskipun dia bicara tidak melihat kearah kami, tapi saya tahu betul bahwa dia menyindir kami. Dari tadi saya heran kenapa gadis kecil itu ketika duduk tidak menghadap kedepan tetapi menghadap ke Selatan tepat saya dan Fadil duduk.

Tidak berselang begitu lama datanglah guru, Gus Lilin panggilan akrabnya. Dengan memperkenalkan namanya dan juga mengabsen nama-nama kami dan juga bertanya siapa di sini ,di kelas X4, maksud saya yang punya nomer Hp untuk mengangkat tangannya. Tujuan dari Gus Lilin ini agar memudahkan dalam proses mengajar nanti.

Gadis kecil itu mengacungkan tangannya, saya tidak sengaja melihatnya waktu dia mengacungkan tangan. Dalam hati timbul perasaan ingin mengenal dia, karena entah ada perasaan apa di dalam hati ini.

Sambil berbisik, saya bicara dengan dia. ”Maaf, nama kamu, Bungah, kan?” Dengan pandanganku ke arah tempat duduk dia, pada waktu itu Bungah duduk dekat dengan saya, hanya terpisah dengan Tin saudara sepupuhnya itu.

“Iya, itu nama saya, memangnya kenapa?” Dengan nada cuwek, agak galak, aku tahu dia bukan hanya gadis kecil tapi juga cerewet.

“Boleh minta nomermu, kalau ada tugas saya kan bisa tanya pada kamu?” Meskipun dalam hati, saya meminta nomer pada Bungah bukan untuk tujuan pekerjaan sekolah, tapi itulah salah satu setrategi saya untuk mengenal dia,,,,,,,,

“Boleh! Tapi jangan dikasihkan pada siapa-siapa, ya,” ujarnya meyakinkanku.

Saat itu saya senang sekali karena diberi nomer si Bungah, di samping itu Fadil tidak mengetahui pembicaraan saya terhadap Bungah karena dia asik berbicara dengan anak lain, karena dia orangnya mudah bergaul, makanya dia waktu itu meninggalkan saya yang duduk di kursi tenpat duduk kami.

“Kamu catat, ya, Ver nomer saya,” saya pun terkejut dari mana dia tahu akan nama saya.

Sesaat pun saya bertanya “Dari mana kamu tau nama saya?”

”Tahu dong,“ jawabnya agak genit, sambil tersenyum melihat saya. “Tau lah. Saya sudah tahu nama kamu waktu di gedung “AULA” dan saya juga tau kamu anak mana,” ujarnya sambil senyum. “Masak anak jelek seperti kamu saya tidak tau nama kamu.” Agak kesel ,si, saya dibilang jelek.

“Kalau saya jelek, ngapain kamu lihatin saya dari tadi, dan kamu tahu tentang nama dan alamat saya.” Agak ngejek berbaur dengan kesel tapi dalam hati senang karena dia anaknya asik banget.

“Iya, iya.” Sambil membacakan nomer telepon, saya pun mencatat di selembaran kertas yang masih kosong. Lalu dia berkata, ”jangan lupa nanti habis pulang sekolah SMS saya ya, Ver, jangan sampai lupa.”

Saya pun sepontan menjawab,”Iya kalau ada pulsa.”

“Dasar anak ngasinan!” Jawap dia sambil tersenyum.

Itulah saat pertama kami bertemu. Berawal dari ejek-ejekan dalam keseharian waktu di kelas, bahkan kita sering ejek-ejekan lewat via SMS. Waktu itu memang belum ada via WA.

Tunggu Episode 2

Mungkin Anda Menyukai

26 tanggapan untuk “Pertemuan Kami di Gedung Hijau

  1. Ping-balik: dildo with balls
  2. We are a group of volunteers and starting a new scheme in our community.
    Your website offered us with valuable information to work on. You’ve done
    a formidable job and our entire community will be thankful to you.

  3. Ping-balik: g spot sex toy
  4. I got this website from my pal who shared with me concerning this website and at
    the moment this time I am visiting this web site and reading very informative articles at this place.

  5. Ping-balik: best pocket pussy
  6. Ping-balik: best dildo for gay
  7. Ping-balik: sex toys
  8. This design is wicked! You definitely know how
    to keep a reader amused. Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog (well, almost…HaHa!) Wonderful job.
    I really loved what you had to say, and more than that, how you presented it.
    Too cool!

  9. Whats up very nice site!! Man .. Beautiful ..
    Wonderful .. I will bookmark your web site and take the feeds
    additionally? I am happy to find numerous useful information here within the
    submit, we want work out extra techniques in this regard,
    thank you for sharing. . . . . .

  10. Ping-balik: real feel dildo
  11. Ping-balik: butt plug vibrator
  12. Ping-balik: Google
  13. I know this if off topic but I’m looking into
    starting my own weblog and was curious what all is required to get setup?
    I’m assuming having a blog like yours would cost a pretty penny?
    I’m not very internet smart so I’m not 100% sure. Any suggestions
    or advice would be greatly appreciated. Appreciate it

  14. What i don’t realize is in fact how you are now not
    really much more well-preferred than you might be now.
    You are so intelligent. You know thus considerably in the case of this subject, made me personally believe it from so many various angles.

    Its like men and women don’t seem to be interested except it
    is one thing to do with Woman gaga! Your own stuffs great.
    All the time take care of it up!

  15. I was recommended this web site by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about
    my problem. You’re wonderful! Thanks!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: