Oh! Mirisnya dan Aku Percaya

Hariri Ulfa’i

Mahasiswi Bidikmisi’17

Bagi saya arti dari mimpi adalah layaknya matahari yang selalu memberi harapan baru di setiap sunrise-nya. Menerangi dan menyaksikan berjalannya waktu, sampai terbenam dengan keindahan senjanya, dan kembali lagi dengan pancaran paginya. Matahari akan tetap seperti itu. Sampai Sang Kholiq memberi pertanda berhenti dan seketika itu matahari terbit dari arah yang berlawanan. Pun saat kita mempunyai mimpi, kejarlah mimpi itu dan teruslah buat mimpi itu memancar hingga kau melihat cahaya yang benar- benar terang benderang. Jika kau merasa akan jatuh, maka bangkitlah dengan indah seperti matahari yang selalu kembali dengan eloknya. Teruslah seperti matahari sampai Sang Kholiq berbisik kepada malaikat, menjemputmu, dan mengembalikan nafasmu kepada-Nya.

Begitu banyak rentetan kisah yang membuat diri ini tetap kuat dan dapat terus melangkah sambil membayangkan begitu banyak mimipi-mimpi yang harus dikibarkan. Terkadang diri ini merasa menjadi seorang yang serakah dan egois. Selalu ingin menuruti semua yang keluar dari tekad dalam hati tanpa memandang kekuatan dan kemampuan dari sebuah kata “materi”.

Semua berawal dari perjuangan di SMA.  Saat itu ibu bertanya kepada saya, “Setelah SMA kamu mau kemana, Nak?” Lalu dengan suara agak tegas saya menjawab,”kuliah, Bu”. Mendengar jawabanku, ibu hanya mengangguk dan tersenyum. Aku merasa lega melihatnya, setidaknya ibu tidak protes, keberatan. Ibu hanya mengatakan dalam hatinya Yaaah…. Aku memiliki dua saudara perempuan, aku berada di urutan nomor dua dari mereka. Kakakku lulusan SMK dengan jurusan favoritnya, Teknik Gambar Bangungan, dan mempunyai harapan menjadi seorang arsitek. Namun dia tak ingin melanjutkan kuliah. Sekarang dia masih mengubur mimpinya dan mengisi waktu untuk bekerja di sebuah toko handphone. Sedangkan adikku sekarang masih duduk di bangku SMP kelas 2.

Sampai sekarang aku pun merasa heran, betapa hebatnya ayah dan ibuku yang sampai detik ini masih berjuang dengan punggung yang sudah tak seusia mudanya lagi. Ibuku bekerja dengan membuka jasa permak baju, dan membuka kios kecil di depan rumah. Sedangkan ayahku bekerja sebagai seorang serabutan, menggarap sawah, jasa jahit sepatu dan terkadang jika ada tawaran, merantau sebagai kuli bangungan. Ayah dan ibuku belum memiliki tempat tinggal, kami sekeluarga masih menumpang di kediaman nenekku. Sebatas rumah kotak, yang diberi batas antar kamar dengan anyaman bambu (gedhek). Begitu dingin saat malam dan musim hujan karna banyak lubang saat kau mengangkat dagumu keatas. Dengan keadaan seperti inilah aku merasa serakah dan egois jika aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah.

Setiap malam aku merenungi keadaan ini, lalu aku mencoba memutar pikiranku, aku berfikir apa yang harus aku lakukan ketika melihat keluargaku yang masih tetap seperti ini. Sampai pada malam perenungan terakhir, muncul tekad dalam hati mengenai sebuah makna dari “percaya”. Aku percaya bahwa Allah adalah sebaik-sebaik perencana. Percaya dengan kemampuan diri ini, dan memohon kemudahan kepada-Nya. Maka saat itulah kau akan dibukakan jalan lebar dari-Nya.

Perjuanganku dimulai dari kisah di ujung SMA. Saat itu semua siswa-siswi kelas 3 merasakan begitu hebatnya ketika akan menentukan kemana akan kuliah, daftar ke jurusan apa, dan melakukan tes, sampai kapan harus mengikuti bimbingan belajar, sampai kapan harus bangun pagi buta untuk datang ke kelas intensif, apakah bisa maksimal dalam mengikuti pelatihan UN yang saat itu menggunakan metode komputer perdana bagi angkatan kami, sampai kapan mata terus terjaga hingga pagi karna menyelesaikan tugas praktek, kapan bisa tidur dengan tenang agar mata ini tak berkantung hitam. Ah…sampai kapan?.

Sebenarnya masih banyak perasaan hebat lainnya yang dapat aku ungkapkan saat itu. Namun pernyataan akhir inilah yang paling penting bagi penilaianku, yaitu seberapa tangguh aku dapat mendaki hingga mampu mengambil bendera di atas puncak yang masih begitu tinggi, menjadikan pertanda bagiku, apakah aku mampu menyelesaikan masa yang begitu menguras tenaga, jiwa, dan pikiran ini?

Haah….Bukan hanya di sekolah saja pertempuran hebat ini, hal yang paling berat adalah bagaimana menguatkan diri ini dari suara-suara yang akan mengundurkan langkahmu. Suara-suara ini muncul dari tetangga, bahkan dari keluarga dekatmu. Sangat begitu jelas saat mereka tanpa berkata pun aku mampu memaknai dari raut wajah mereka ketika menatap dan melangkah menuju hadapanku. Begini untaian kata yang mampu aku rekam dan terkadang masih terngiang di kepalaku, menggetarkan hati, bahkan air mata menetes, “Jika kau kuliah, Nduk, maka bapakmu akan bunuh diri karena tak kuat menahan beban dan terus mengadu nasibnya demi menyekolahkan anaknya..!” Begitu lirih, ada getaran hati, hingga aku terisak dengan tajamnya lontaran itu. Setelah kata itu terlontar, aku mengurung diri di kamar, aku menangis, namun aku tak mampu berteriak, karena aku tak ingin tangisan ini terdengar oleh ibuku.

Tidak hanya sampai di sini. Aku pernah layaknya seorang yang diintrogasi karena sebuah kesalahan yang besar. Aku  duduk selama kurang lebih tiga setengah jam untuk mendengarkan lontaran yang bertujuan untuk memasungku agar tak melanjutkan tekadku untuk kuliah. Dengan lontaran tersebut pun, nenekku berhasil terhasut dan akhirnya beliau ikut memasungku dan menyuruhku untuk mengakhiri saja tekad yang dianggap konyol bagi mereka. Di samping sifat nenekku yang sulit melepaskan cucu-cucunya untuk pergi merantau jauh.

Dan lagi-lagi aku menangis terisak. Namun kali ini ibuku berada di sampingku. Bukannya ibu melerai dengan nasihat yang halus, namun malah membentak diriku dan memarahiku habis-habisan. Beliau mengatakan, “Ngapain itu? Heh? Sampai kapan kamu mau menangis? Apa hanya dengan gertakan dari mereka lalu kamu mau menyerah begitu saja? Kalo mau jadi orang sukses, tutup telingamu, dan lanjutkan impianmu, Nak!”.

Waktu terus bergulir, dan perjuanganku terus berlanjut. Aku dan empat sahabatku berjuang mengikuti banyak jalur untuk masuk ke perguruan tinggi. Kami beruntung karena mendapat undangan untuk mengikuti bimbingan belajar “PRIMAGAMA” dengan biaya yang sangat ringan. Undangan tersebut diberikan kepada siswa yang berada di peringkat 1-5.

Kemudian satu persatu pengumuman tes untuk masuk ke perguruan tinggi pun muncul. Satu persatu sahabatku sudah diterima di perguruan tinggi yang mereka tuju. Tinggal aku dan dua sahabatku yang belum memperoleh perguruan tinggi. Satu sahabatku yang paling dekat denganku mengatakan, “Apa kamu khawatir?  Sedikit memang. Tapi entah kenapa hatiku selalu merasa tenang walaupun hanya kita yang belum memperoleh kampus, aku percaya bahwa kita pasti akan masuk ke salah satu perguruan tinggi yang dipilihkan oleh Allah, dan kita pasti akan membanggakan orang tua. Tak apa, Har, kita masih ada satu jalur dan itu adalah kesempatan terakhir kita, semangat dan lakukan yang terbaik!”.

Kemudian kami pun berangkat ke sekolah untuk mendaftarkan diri mengikuti jalur terakhir yaitu tes SPAN-PTKIN, yang tanpa disengaja, salah satu dari sahabatku memilih jurusan yang sama dan perguruan tinggi yang sama pula. Hal yang saya takutkan adalah ketika salah satu dari kami tidak diterima. Itu yang membuat hati saya tidak nyaman. Namun, kami saling menyadari dan mensupport satu sama lain. Kami percaya bahwa ini murni perjuangan dari hasil tes nanti, dan tentunya sudah menjadi rencana dari Allah SWT.

Hari tes pun sudah tiba. Saya berangkat dengan sahabat saya. Sebelum kami berangkat tes, kami sudah jauh-jauh hari mencari tempat kos kakak kelas kami di SMA yang kebetulan kuliah di sana, kami minta izin satu malam untuk menginap. Saat berangkat tes, kami tak membawa uang banyak, karena sudah banyak bagi kami uang yang dikeluarkan untuk daftar dan wira-wiri tes kesana kemari. Kami hanya makan satu kali saat makan malam, supaya esoknya kami bisa pulang karna uang hanya tersisa untuk mengendarai bus saat pulang nanti. Akhirnya, kare1na saya punya penyakit lambung, saat tes berlangsung keadaan saya kurang sehat, begitu juga dengan sahabat saya. Saya merasa tidak mengerjakan tes dengan maksimal. Setelah tes usai, saya menangis dan takut jika ini adalah akhir dari segalanya. Sepanjang jalan menuju tempat pemberhentian bus, saya merenung dan marah pada diri saya sendiri.

Kami menunggu bus lebih dari satu jam. Menahan diri untuk tetap kuat karena saya kurang enak badan. Lalu saat bus sudah datang, kami tak mendapat tempat duduk. Apa boleh buat kami sudah menunggu lama dan untuk menunggu bus lagi yang tidak full saya rasa sudah tidak kuat lagi dan saya ingin segera istirahat di rumah. Saya berdiri di dalam bus selama 2 jam lebih, dan bukan main rasanya capek sekali. Sesampainya di rumah saya hanya diam, lalu saya membersihkan diri dan makan. Kemudian saya langsung beranjak ke kamar untuk istirahat.

Hari demi hari berlalu, akhirnya hari pengumuman tes SPAN-PTKIN sudah datang. Saat itu, satu dari sahabatku sedang di rumahku. Kami berencana untuk melihat pengumuman itu bersama-sama. Sebelum melihat pengumuman, aku melaksanakn salat duhur terlebih dahulu. Kemudian aku berdo’a, “apapun rencanamu hari ini ya Allah, aku pasrah”.

Dan begitu besar Kuasa Allah, aku dan kedua sahabatku lolos dari tes SPAN-PTKIN. Dan yang paling mengejutkan saat pesan WA  masuk dari sahabatku. “Selamat, Har, kita lolos!” Lalu aku bertanya, “apa maksudnya kita?” Kemudian dia menjawab, “kita diterima di jurusan yang sama dan kampus yang sama pula, kita akan mengikuti tes tahap dua bidikmisi, jadi jangan pernah terfikirkan niat untuk mundur”. Seketika aku merangkul dan memeluk sahabatku dengan air mata haru yang tak kunjung berhenti. Betapa bangganya ayah dan ibuku, keluargaku, dan semua saudara-saudaraku. Pun tetangga-tengga yang entah mendengar kabar itu dari mana, mereka terkejut mendengar kabar itu.

Namun, tiba-tiba ayah dan ibu ragu untuk mengantarkan saya ke perguruan tinggi. Mereka takut apabila tes tahap kedua bidikmisi ini tidak lolos. Suara-suara negatif itu muncul kembali. Sampai membuat nenek saya benar-benar tidak mengizinkan saya untuk kuliah. Bukan sampai di situ, saudara ayah dan ibu pun tidak ada yang mendukungku. Langkah yang saya ambil adalah membuat mereka percaya dan yakin bahwa “jika Allah memang sudah memberikan amanah ini kepada saya, bukan tidak mungkin Allah membiarkan kita kesulitan, percayalah Allah akan bertanggung jawab memberikan jalan yang lebar kepada kita”. Kata-kata ini terus saya lontarkan kepada mereka, terutama ayah dan ibu saya. Saya terus berusaha mendamaikan hati dan kekhawatiran mereka. Sampai kakak laki-laki keponakan saya turun tangan untuk membujuk dan memberi semangat kepada keluarga saya. Kakak laki-laki keponakan inilah yang masih mendukung saya. Akhirnya, lambat laun karena keras kepalanya saya, dan hanya bondo nekat yang saya pikirkan, akhirnya mereka luluh dan merestui saya untuk menuntut ilmu yang lebih banyak lagi. Sebelum saya masuk kuliah, saya menganggur selama 2 bulan, selama menganggur saya mengisi waktu untuk ikut bekerja dengan kakak perempuan saya di konter. Saya mengumpulkan uang ini untuk membeli kebutuhan-kebutuhan kuliah saya, dan mencari tambahan untuk hidup saya diperantauan.

Setiap hari saya kuliah dengan mengendarai sepeda ontel, perjalanan dari Bendul Merisi Gg. 1 Selatan ke UINSA kira kira sekitar 15 menit. Dan pengalaman saya ketika naik sepeda sangat konyol haha. Sudah dua kali, pedal saya copot, dan sekali rante saya lepas. Saat pedal saya copot, saya berjalan sampai kos selama lebih dari setengah jam. Dan anehnya, pedal saya copot ketika saya pulang dari kampus saat malam, karena setelah mengikuti kajian salah satu organisasi di kampus. Hal ini sedikit miris bagi sebagian orang, namun kejadian itu merupakan hal yang membuat saya tertawa sendiri seperti orang gila di sepanjang jalan pulang.

Dan puncaknya, sebelum saya berangkat ke Surabaya, ayah saya berpesan agar jangan lupa untuk selalu berdo’a kepada Allah agar di beri kemudahan dan kekuatan untuk kita semua. Do’a pun diijabah oleh Allah swt. Yaitu do’a tulus dari kedua orang tua yang tak lepas dari ridhonya orang tua terhadap perjalanan hidup kita. Saya dinyatakan lolos bidikmisi, pengumuman itu disampaikan oleh seorang teman saat saya duduk di masjid karena menunggu hujan reda. Bukan hal yang baru lagi karna saya pasti terharu akan kabar itu. Banyak ucapan selamat dari teman-teman saya, dan juga saudara serta keluarga saya. Kemudian teman yang membawakan kabar itu bertanya kepada saya, “Apa yang membuat dirimu diterima bidikmisi? Apakah prestasimu banyak? Apakah nilai raportmu bagus-bagus?” Kemudian saya menjawab, “tanamkan percaya dalam hatimu, maka kau akan tahu begitu besar kekuatan di dalamnya”.

Saya tak sabar memberikan kabar kepada orang tua saya saat itu, setelah saya menyampaikan kabar gembira ini, ayah, ibu dan nenek tak lagi khawatir. Mereka berpesan, “gunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, dan teruslah berjuang”.

Mungkin Anda Menyukai

35 tanggapan untuk “Oh! Mirisnya dan Aku Percaya

  1. I see you don’t monetize your blog, don’t waste your traffic,
    you can earn extra cash every month. You can use the best adsense alternative
    for any type of website (they approve all websites), for
    more details simply search in gooogle: boorfe’s tips monetize your website

  2. Hi. I see that you don’t update your site too often. I know that writing content is boring and
    time consuming. But did you know that there is a tool that allows you
    to create new posts using existing content (from article directories or other websites from your
    niche)? And it does it very well. The new articles are unique and pass the
    copyscape test. You should try miftolo’s tools

  3. I can see that your blog probably doesn’t have
    much traffic. Your articles are awesome, you only need more
    new visitors. I know a method that can cause a viral effect on your site.
    Search in google: dracko’s tricks make your content go viral

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: