Bidikmisiku, Perjuanganku

Gading Putri Permatasari

Mahasiswi Bidikmisi’17

Assalamualaikum wr. wb.

Perkenalkan namaku Gading Putri Permatasari lahir tanggal 7 januari 1998, anak pertama dari tiga bersaudara, tinggal di Bungurasih timur, Sidoarjo. Sekarang aku kuliah di prodi Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya. Dan inilah ceritaku dalam memperoleh Bidikmisi.

Aku lulusan SMK Negeri 2 Buduran tahun 2016, ya,  jadi aku berhenti selama setahun setelah lulus. Sebelum berbicara tentang Bidikmisi maka aku akan menceritakan bagaimana aku akhirnya bisa kuliah. Ketika sudah kelas XII semester akhir pastilah semua siswa harus  sudah mempersiapkan tujuan selanjutnya, tentunya aku juga. Tapi ketika itu aku bingung akan lanjut kemana, pilihan pertama adalah bekerja, pilihan kedua adalah kuliah. Tentu saja sebagai seorang siswa aku juga berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun keinginan itu seolah hanya mimpi bagiku waktu itu. Karena aku masih mempunyai tunggakan biaya di SMK yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar kuliah karena teman-teman yang memotivasiku bahwa aku bisa kuliah, dan caranya adalah dengan mendaftar beasiswa Bidikmisi. Kemudian aku daftar SNMPTN dan SBMPTN, juga Bidikmisi. Aku dan teman-teman yang daftar Bidikmisi dibina oleh guru kami. Kami diberitahu dan diarahkan. Akan tetapi Allah berkehandak lain. Aku gagal dalam SNMPTN dan SBMPTN. Dan benar apa yang ditakdirkan oleh Allah kepada kita adalah yang terbaik. Karena semisal aku lolos SNMPTN/SBMPTN waktu itu tetap saja aku tidak bisa melanjutkannya, karena aku masih punya tunggakan di SMK, sehingga ijazah dan lain-lain masih ditahan. Dan pada akhirnya aku bekerja.

Hari demi hari aku bekerja. Aku selalu berpikir apa aku bisa kuliah? Hingga kemudian alhamdulillah aku bisa mengumpulkan uang hasil gajiku untuk melunasi tunggakan di SMK. Kemudian aku bertekad untuk daftar SBMPTN 2017. Aku berusaha, belajar lagi.

Selain mendaftar SBMPTN, aku juga daftar UM-PTKIN. Aku juga memperbarui akun Bidikmisiku yang tahun lalu sudah pernah daftar. Namun aku gagal lagi dalam SBMPTN. Tapi alhamdulillah aku lolos UM-PTKIN dan dinyatakan lolos Bidikmisi Tahap 1: tahap selanjutnya akan dilaksanakan di UINSA. Tetapi karena sistem Bidikmisi di UIN berbeda dengan di Universitas lainnya, untuk UKT yang pertama harus bayar sendiri. Alhamdulillah aku masih ada tabungan hasil bekerja selama setahun yang bisa digunakan untuk membayar UKT. Oh iya, cerita singkat soal UKT-ku, waktu pengumuman UKT muncullah sebesar Rp. 4.300.000,- tentu saja aku sangat terkejut dengan jumlah sebesar itu, sedangkan aku tidak termasuk dalam golongan orang yang berada. Padahal aku lewat jalur UM-PTKIN. Sehingga kemudian aku mengajukan keringanan dan alhamdulillah diterima dan UKT-ku berubah menjadi Rp. 2.100.000,-.

Setelah masuk dan kuliah, hari demi hari kujalani, aku harap cemas karena tak kunjung ada kabar tentang kelanjutan Bidikmisi. Sampai ada pengumuman untuk mengumpulkan berkas-berkas persyaratan untuk daftar Bidikmisi, dan ternyata pendaftaran itu seperti mengulang lagi. Jadi untuk yang dulu sudah pernah mendapatkan pengumuman lolos tahap 1 tidak mempengaruhi menurutku. Jadi aku mengurus lagi berkas-berkasnya, mulai dari bolak-balik ke kelurahan hingga ke SMK. Setelah itu menunggu lagi, hari demi hari, kemudian salah satu temanku bercerita kemarin rumahnya disurvei oleh orang dari Twin Tower. Tapi mengapa rumahku tidak? Aku pun mulai cemas, hingga hari pengumuman pun tiba. Pertama kali aku tau pengumuman yang lolos Bidikmisi dari grup kelas, ada salah satu teman yang share file pdf, kemudian aku membuka file tersebut dengan jantung berdegup kencang. Dan sungguh betapa terkejutnya aku ketika membaca satu persatu nama yang lolos. Aku mencari prodi ES yang mana adalah prodi ku, kemudian kubaca hingga habis dan aku masih tidak percaya, kuulangi lagi membaca dari atas tapi masih tetap sama. Disana tidak ada namaku. Masih dengan ketidakpercayaan, aku membuka web UINSA dan melihat langsung pengumuman dari web tersebut, dan ternyata tetap sama, disana tidak tercantum namaku. Rasanya campur aduk. Aku bingung. Aku sedih hingga ingin menangis, juga masih deg-deg an. Aku benar-benar tidak paham, yang ada dalam kepalaku adalah mengapa tidak ada namaku? Sedangkan secara persyaratan aku memenuhi, bahkan sangat memenuhi, apalagi jika dibandingkan dengan nama-nama yang lolos aku jauh lebih memenuhi. Mengapa aku bisa berkata begini? karena 3 teman kelasku sendiri namanya tercantum dan aku tau persis bagaimana kondisi mereka. Tapi mengapa mereka yang bahkan kondisinya lebih baik daripada aku bisa lolos. Aku berpikir, berpikir dan berpikir, hingga aku berpikiran aku harus meminta penjelasan. Kemudian aku memberanikan diri untuk ke Twin Tower, lantai 4, tempat di mana dulu aku mengumpulkan berkas Bidikmisi. Yang ingin kutuju waktu itu adalah Bapak yang mejanya tepat setelah pintu sebelah kiri, namun kulihat dari luar, Beliau tidak ada di kursinya. Aku mencoba masuk, dan benar di sana sepi. Aku keluar, duduk di kursi depan, aku menunggu, tapi Bapak itu tak kunjung datang. Dengan perasaan yang sebenarnya takut, tapi pikiranku terus berkata, aku harus memprotes ini. Mungkin sekitar satu setengah jam aku hanya duduk di sana, hingga aku memutuskan untuk kembali. Sesampainya di rumah aku benar-benar menyesal mengapa aku tadi tidak masuk dan memberanikan diri.

Keesokan harinya aku kembali lagi ke lantai 4, dan meyakinkan diriku aku bisa. Aku masuk ke ruangan tersebut dan langsung menghadap Bapak tersebut. Aku menceritakan bahwa aku tidak lolos, menceritakan bagaimana keadaanku, dan jujur aku tak kuasa membendung air mataku waktu itu.  Bapak itu menjawab yang intinya bahwa mereka bisa lolos karena mereka tinggalnya nge-kos yang membutuhkan biaya hidup untuk makan dll. Tapi sekarang coba dipikir apa dengan alasan itu bisa menjadikan mereka lolos tanpa memperhatikan kondisi ekonominya? Kemudian Bapak itu juga menyampaikan dan memotivasi bahwa masih banyak beasiswa selain Bidikmisi nantinya. Ibu yang mejanya di sebelah Bapak itu juga memotivasiku untuk tidak bersedih dan semangat. Tapi sesungguhnya yang ada di pikiranku adalah Bidikmisi ini adalah satu-satunya harapanku untuk bisa kuliah. Memang masih banyak beasiswa, tapi itu di semester 3, lalu bagaimana untuk UKT semester 2 ku? Aku terisak-isak di ruangan. Hingga mereka akhirnya mencari berkasku dan menanyai apakah rumahku didatangi, aku menjawab tidak, dan Ibu itu berkata berarti aku sudah tidak lolos berkas. Kemudian aku disuruh kembali saja dan menunggu. Setelah itu aku berdoa memohon kepada Allah agar aku bisa dimasukkan ke dalam daftar yang lolos, hampir setiap hari di dalam sholatku aku memohon pada Allah.

Setelah tiga atau empat hari kemudian aku lupa tepatnya aku kembali ke lantai 4 ruangan tersebut untuk menanyakan kelanjutannya. Dan hari itu sudah H-2 pengarahan untuk yang lolos. Ketika masuk ke ruangan itu, ternyata di sana tidak ada Bapak itu, hanya ada Ibu kemarin yang kulihat. Kemudian aku menghampiri Beliau dan bertanya bagaimana untuk kelanjutan Bidikmisiku. Beliau mengarahkan aku untuk menghadap kepada Bapak yang mejanya ada di paling dalam (aku lupa nama Bapaknya, tapi Beliau seperti kepala di ruangan itu). Lalu aku dipersilahkan untuk duduk, dan menjelaskan semuanya. Beliau berkata bahwa dari sekian ratus yang daftar diseleksi berdasarkan prestasi yang kemudian disurvei. Dan aku pun menjelaskan mengapa yang lain dengan prestasi yang di bawahku, kondisi ekonomi jauh lebih baik tapi bisa lolos. Bapak itu masih tetap bersikeras bahwa itu semua adalah hasil dari tim yang menyeleksi. Tapi aku tetap tidak bisa menerima penjelasan itu, karena apabila dilihat dari persyaratan aku lebih berhak dibanding mereka yang lolos. Dan aku pun tak kuasa membendung air mataku lagi. Lumayan lama aku berada di meja itu, dengan masih terisak aku berpamitan. Tapi sebelum pamit, Beliau meminta nomor hp-ku untuk bisa dihubungi apabila ada beasiswa lainnya. Setelah keluar aku langsung menuju masjid, aku merasa ingin mencurahkan semuanya kepada Allah. Waktu itu masih sekitar jam 10 pagi. Aku mengambil wudu dan sholat duha. Di dalam salatku, aku menangis dan memohon pada Allah agar aku diberi kekuatan dan kesabaran serta bisa menerima semuanya. Tak lama setelah itu, tiba-tiba turun hujan, sangat deras, aku teringat bahwa salah satu doa yang mustajabah adalah ketika sedang turun hujan. Aku bergegas berdoa kepada Allah. Setelah itu aku duduk di dalam masjid sambil membuka tugas. Tiba-tiba pas aku melihat hp-ku, ada telepon masuk dengan nomor yang tidak dikenal, lalu ku angkat, terdengar suara seorang bapak-bapak yang aku tau suara itu dan ternyata adalah Bapak yang tadi aku temui di lantai 4. “Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam”. “Ini Gading?” “Nggeh, Pak.” “Kamu sekarang dimana?” “Ini di masjid, Pak” “Orangtuamu sekarang ada di rumah?” “Nggeh pak, wonten”. “Ini mau disurvei rumahmu, ada yang ngundurkan diri satu anak, makanya ini mau disurvei”. “Oh! Alhamdulillah, nggeh, Pak”. “Kamu sekarang bisa kesini?” “Oh nggeh enggeh saget, Pak saget”. “Ya sudah, kamu ke sini ya, sekarang juga”. “Nggeh pak”. Dan benar terbukti kekuatan sebuah doa :’). Secepat mungkin aku menuju ke lantai 4 Twin Tower lagi. Ketika aku masuk ruangan, tidak kutemui Bapaknya. Tapi ada lagi Bapak yang lain yang menanyai ku dan ternyata Beliaulah yang diberi tugas untuk mensurvei tempat tinggalku. Bapak dan Ibu yang pernah kutemui sebelumnya tersenyum padaku dan berkata “Wes nangisnya, wes gak nangis sedih lagi, ya”. Aku hanya bisa tersenyum dan terharu. Setelah beberapa saat, aku dan dua Bapak yang dimandati oleh Bapak yang menelponku tadi berangkat menuju tempat tinggalku. Setelah sampai, alhamdulillah di acc dan aku akhirnya lolos Bidikmisi. Sungguh Allah memang menakdirkan yang terbaik untuk kita. Itulah ceritaku dalam memperoleh Bidikmisi yang lebih tepatnya memperjuangkan Bidikmisi. Sekian, maaf sangat panjang hehe. Terimakasih

Wassalamualaikum wr. wb.

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Bidikmisiku, Perjuanganku

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: